KILAS BANTEN – Pemerintah Kota Tangerang terus memperkuat langkah pencegahan stunting dengan mengoptimalkan layanan Pos Gizi di seluruh 104 kelurahan.
Program ini menjadi strategi utama pemerintah daerah untuk mendeteksi masalah gizi sejak dini sekaligus memastikan balita mendapatkan penanganan sebelum mengalami stunting.
Melalui Pos Gizi, tenaga kesehatan dan kader posyandu melakukan pemantauan pertumbuhan anak secara rutin. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur berat badan, tinggi badan atau panjang badan, serta menilai kondisi gizi balita agar potensi gangguan tumbuh kembang dapat segera diketahui.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, menjelaskan Pos Gizi memiliki fungsi lebih luas dibanding sekadar tempat penimbangan balita.
Menurutnya, fasilitas tersebut juga menjadi pusat edukasi bagi orang tua sekaligus lokasi pelaksanaan intervensi gizi secara intensif.
“Pos Gizi adalah langkah nyata untuk meningkatkan status gizi balita yang terindikasi gizi kurang sebelum mereka jatuh ke kondisi stunting. Ini bukan hanya tempat menimbang, tapi tempat edukasi dan intervensi gizi intensif,” ujar dr. Dini, Kamis, 5 November 2026.
Selain melakukan pemantauan pertumbuhan, Pos Gizi juga menyediakan berbagai layanan terpadu. Balita memperoleh pemberian makanan tambahan (PMT), sementara orang tua mendapatkan penyuluhan mengenai pola asuh yang tepat, pemenuhan gizi seimbang, hingga deteksi dini apabila ditemukan gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan lanjutan di fasilitas kesehatan.
Pemkot Tangerang menilai upaya pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan menangani kasus stunting yang sudah terjadi. Karena itu, seluruh balita dipantau secara berkala agar tenaga kesehatan dapat menemukan gejala gizi kurang lebih cepat dan segera memberikan intervensi sesuai kebutuhan.
Data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) menunjukkan prevalensi stunting di Kota Tangerang hingga Mei 2026 berada di angka 5,4 persen. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, pemerintah daerah tetap menjadikan pencegahan sebagai prioritas utama agar tidak muncul kasus stunting baru.
“Fokus kami sekarang adalah jangan sampai ada anak dengan stunting baru. Oleh karena itu, berbagai intervensi sudah bergeser ke arah pencegahan, dimulai sejak remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga anak usia balita,” kata dr. Dini.
Untuk memperkuat program tersebut, Dinas Kesehatan Kota Tangerang juga memanfaatkan teknologi digital melalui aplikasi SiData dan e-PPGBM. Sistem ini membantu petugas memantau perkembangan status gizi masyarakat secara lebih akurat sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan kesehatan.
Di sisi lain, kompetensi tenaga kesehatan di seluruh puskesmas juga terus ditingkatkan melalui program SDIDTK-PMBA atau Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang serta Pemberian Makan Bayi dan Anak. Program tersebut bertujuan memastikan setiap anak memperoleh pemantauan pertumbuhan yang optimal sejak usia dini.
Melalui penguatan Pos Gizi, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta pemanfaatan teknologi digital, Pemkot Tangerang berharap upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih efektif. Pemerintah juga mengajak keluarga, kader posyandu, dan seluruh masyarakat untuk berkolaborasi menjaga asupan gizi anak agar lahir generasi yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting.***






