Dalam pemaparannya, tim ITB juga mengungkap sejumlah tantangan digital yang masih dihadapi UIN Banten. Mulai dari aplikasi yang berjalan sendiri-sendiri, lemahnya keamanan siber, hingga keterbatasan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai solusi, ITB menawarkan konsep transformasi digital berbasis lima pilar utama. Program itu dirancang berjalan selama 36 bulan dengan estimasi investasi mencapai Rp210 miliar.
Program tersebut meliputi penguatan tata kelola digital melalui pembentukan Digital Transformation Office (DTO), modernisasi layanan kampus, integrasi data, penguatan keamanan siber, serta pembangunan infrastruktur digital berupa pusat data atau data center.
ITB juga menyiapkan program quick wins selama 90 hari pertama. Tahap awal itu mencakup pembentukan DTO, penyusunan kebijakan dasar transformasi digital, migrasi email institusi, penerapan Single Sign-On berbasis Google Workspace, hingga penguatan sistem keamanan digital.
Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian UIN Banten, Dr. Zaenuri, berharap masterplan tersebut tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan semata.
Ia menginginkan konsep pengembangan kampus divisualisasikan dalam bentuk maket fisik agar menjadi acuan pembangunan jangka panjang.
Menurut Zaenuri, keberadaan masterplan sangat penting untuk menjaga kesinambungan pembangunan kampus meski terjadi pergantian kepemimpinan di masa mendatang.
Dalam sesi diskusi, Kepala Bagian Umum UIN Banten Akhmad Taptajani juga meminta pengembangan jalan kampus dan pembangunan Gedung Layanan Kesehatan Masyarakat melalui skema SBSN tahun 2028 dimasukkan lebih rinci ke dalam masterplan.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya
















