Wisatawan menikmati panorama pantai berpasir putih dan air laut jernih di Pulau Peucang, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Menurutnya, wisatawan dari Australia, Belanda, dan sejumlah negara lain menjadi pengunjung yang cukup sering datang ke Pulau Panaitan. Selain berselancar, mereka juga menikmati kegiatan berkemah, trekking, hingga wisata budaya dan religi di kawasan Gunung Raksa.
Di balik pesona pariwisatanya, Taman Nasional Ujung Kulon tetap menjalankan fungsi utama sebagai kawasan konservasi. Wilayah ini dikenal sebagai habitat terakhir Badak Jawa yang tersisa di dunia.
Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Ardi Andono, menjelaskan beberapa titik wisata masih ditutup sementara untuk mendukung program pelestarian satwa langka tersebut.
“Pulau Handeuleum dan Kuta Karang masih ditutup sementara karena digunakan untuk kegiatan translokasi Badak Jawa. Untuk wisatawan masih banyak lokasi lain yang dapat dikunjungi,” jelasnya.
Ardi memastikan Pulau Panaitan tetap aman untuk dikunjungi wisatawan. Namun ia mengingatkan bahwa aktivitas selancar di kawasan tersebut lebih cocok bagi peselancar yang telah memiliki pengalaman karena karakter ombaknya cukup menantang.
Ia juga mengakui masih terdapat sejumlah keterbatasan fasilitas yang terus dibenahi secara bertahap, terutama terkait pasokan listrik yang masih mengandalkan generator.
“Kendalanya memang listrik karena masih mengandalkan genset. Kami terus berupaya meningkatkan fasilitas dan sarana umum untuk kenyamanan wisatawan,” katanya.
Sementara itu, wisatawan berharap peningkatan fasilitas umum dapat menjadi perhatian ke depan. Irma, pengunjung asal Kota Serang, mengaku terkesan dengan kebersihan pantai dan kejernihan laut di Pulau Peucang. Namun ia berharap ketersediaan toilet dan air bersih dapat semakin ditingkatkan.