“Rakornas ini menjadi ruang penting untuk menyamakan pandangan dan merumuskan langkah konkret dalam meningkatkan kualitas SDM pendidikan Islam, sekaligus memperluas akses pendidikan tinggi bagi lulusan madrasah,” ujar Prof Ishom, Senin, 9 Februari 2026.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Isu sumber daya manusia menjadi topik utama yang mengemuka dalam Rakornas. Pembahasan mencakup kondisi dosen dan tenaga kependidikan perguruan tinggi, guru dan tenaga kependidikan madrasah, hingga peserta didik. Kualitas SDM dinilai sebagai faktor kunci dalam upaya peningkatan mutu pendidikan Islam yang berkelanjutan.
Data yang disampaikan dalam forum tersebut menunjukkan tantangan yang masih besar. Sebanyak 25.663 guru madrasah dan Raudhatul Athfal tercatat belum memiliki kualifikasi pendidikan Strata Satu.
Selain itu, sebanyak 424.398 guru madrasah dan RA belum mengantongi sertifikat pendidik sebagai guru profesional. Kondisi ini dinilai berpengaruh langsung terhadap kualitas proses belajar mengajar di madrasah.
Rakornas menekankan pentingnya peran aktif perguruan tinggi, khususnya PTKIN dan lembaga penyelenggara pendidikan tenaga kependidikan. Perguruan tinggi didorong terlibat langsung dalam menuntaskan pendidikan S1 guru madrasah serta mempercepat proses sertifikasi. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kompetensi akademik, pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian guru.
Selain persoalan SDM, Rakornas juga menyoroti tantangan akses pendidikan tinggi bagi lulusan madrasah. Secara nasional, jumlah pendaftar PTKIN dari lulusan SMA dan SMK masih lebih tinggi dibandingkan lulusan Madrasah Aliyah dan Madrasah Aliyah Kejuruan. Kondisi ini dipengaruhi oleh fakta bahwa jumlah MA dan MAK hanya sekitar 12 persen dari total SMA dan SMK di Indonesia.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















