KILAS BANTEN – Pulau Peucang kembali mencuri perhatian wisatawan. Destinasi yang berada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kabupaten Pandeglang, Banten, ini semakin populer setelah banyak kontennya beredar di media sosial.
Keindahan alam yang masih terjaga membuat banyak pengunjung mengaku terpesona sejak pertama kali menginjakkan kaki di pulau tersebut. Hamparan pasir putih, laut berwarna biru kehijauan, hutan tropis yang rimbun, hingga keberadaan satwa liar menjadi daya tarik utama yang sulit ditemukan di banyak tempat lain di Indonesia.
Meski membutuhkan perjalanan cukup panjang untuk mencapainya, wisatawan menilai seluruh rasa lelah selama perjalanan langsung terbayar saat menikmati panorama alam Pulau Peucang dan kawasan Ujung Kulon.
Salah seorang wisatawan asal Kota Serang, Ayu, mengaku mengenal Pulau Peucang melalui unggahan di Instagram dan TikTok. Rasa penasaran yang muncul dari berbagai konten wisata tersebut akhirnya membawanya berlibur selama tiga hari dua malam di kawasan Ujung Kulon.
“Awalnya lihat di Instagram dan TikTok. Makin lama makin tertarik. Pas datang ternyata lebih bagus lagi. Seru banget, bisa snorkeling, ke Savana Cidaon, lihat Pohon Kiara, foto-foto, nambah teman juga. Pasti bakal balik lagi ke sini,” ujar Ayu, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, pengalaman menikmati keindahan bawah laut menjadi momen yang paling berkesan selama berada di Pulau Peucang. Air laut yang jernih dan terumbu karang yang masih terjaga memberikan pengalaman berbeda dibandingkan destinasi wisata lain yang pernah ia kunjungi.
Ayu bahkan menyebut Pulau Peucang sebagai destinasi yang wajib masuk dalam daftar perjalanan masyarakat Banten.
“Warga Sedulur Banten wajib coba ke Pulau Peucang. Dijamin ketagihan,” katanya.
Kesan positif juga disampaikan Ade, wisatawan asal Bekasi. Sebelum berangkat, ia sempat meragukan apakah keindahan yang viral di media sosial benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Namun setelah melihat langsung, ia mengaku tak menemukan perbedaan antara foto-foto yang beredar dengan kenyataan.
“Ternyata sebagus yang ada di media sosial. Airnya jernih, alamnya masih asri, dan kalau beruntung bisa melihat satwa liar yang langka. Apa yang saya lihat di sosmed sama persis dengan kondisi aslinya,” tuturnya.
Pengalaman serupa dirasakan Dinda, wisatawan asal Bekasi lainnya. Ia mengaku perjalanan yang memakan waktu cukup lama tidak terasa sia-sia setelah menyaksikan langsung pesona alam Pulau Peucang.
“Ini pertama kali ke sini. Seru, gokil, keren banget. Jauhnya perjalanan langsung terbayarkan pas lihat pemandangannya,” katanya.
Tidak hanya wisatawan dari luar daerah, masyarakat Banten sendiri menilai Ujung Kulon sebagai salah satu kebanggaan daerah yang memiliki daya tarik internasional. Mikdad, warga Kota Serang, menyebut kawasan tersebut sebagai destinasi yang wajib dikunjungi setidaknya sekali seumur hidup.
“Ini luar biasa. Pantainya bagus, bersih, asri, satwa liarnya juga ada. Banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri datang ke sini. Belum afdal disebut orang Banten kalau belum pernah ke Ujung Kulon,” ujarnya.
Pulau Peucang menawarkan beragam aktivitas wisata alam. Pengunjung dapat melakukan snorkeling untuk menikmati keindahan terumbu karang, freedive dan diving di kawasan Citerjun, hingga trekking menyusuri hutan tropis yang masih alami.
Selain itu, Savana Cidaon menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan untuk mengamati satwa liar seperti banteng, rusa, dan burung merak. Kawasan ini juga menjadi tempat ideal untuk menikmati matahari terbit maupun matahari terbenam yang kerap diburu para fotografer.
Di antara berbagai objek wisata yang ada, Pohon Kiara menjadi salah satu ikon paling terkenal di kawasan Ujung Kulon. Pohon berukuran raksasa yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun tersebut diyakini mampu bertahan dari dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.
Tak jauh dari lokasi tersebut terdapat Karang Copong, formasi batuan alami yang menyerupai jembatan raksasa. Selain memiliki keunikan geologi, kawasan ini juga menyimpan berbagai cerita dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar.
Daya tarik wisata Ujung Kulon tidak hanya berpusat di Pulau Peucang. Kawasan ini juga memiliki Pulau Panaitan yang terkenal sebagai salah satu lokasi selancar terbaik di Indonesia.
Polisi Hutan Pulau Panaitan, Rudin Suhendar, mengatakan wisatawan mancanegara rutin berkunjung untuk menikmati ombak yang menantang.
“Kalau cuaca bagus, terutama Agustus sampai Oktober, ombaknya sangat baik untuk surfing. Banyak wisatawan asing datang ke sini,” ungkap Rudin.
Menurutnya, wisatawan dari Australia, Belanda, dan sejumlah negara lain menjadi pengunjung yang cukup sering datang ke Pulau Panaitan. Selain berselancar, mereka juga menikmati kegiatan berkemah, trekking, hingga wisata budaya dan religi di kawasan Gunung Raksa.
Di balik pesona pariwisatanya, Taman Nasional Ujung Kulon tetap menjalankan fungsi utama sebagai kawasan konservasi. Wilayah ini dikenal sebagai habitat terakhir Badak Jawa yang tersisa di dunia.
Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Ardi Andono, menjelaskan beberapa titik wisata masih ditutup sementara untuk mendukung program pelestarian satwa langka tersebut.
“Pulau Handeuleum dan Kuta Karang masih ditutup sementara karena digunakan untuk kegiatan translokasi Badak Jawa. Untuk wisatawan masih banyak lokasi lain yang dapat dikunjungi,” jelasnya.
Ardi memastikan Pulau Panaitan tetap aman untuk dikunjungi wisatawan. Namun ia mengingatkan bahwa aktivitas selancar di kawasan tersebut lebih cocok bagi peselancar yang telah memiliki pengalaman karena karakter ombaknya cukup menantang.
Ia juga mengakui masih terdapat sejumlah keterbatasan fasilitas yang terus dibenahi secara bertahap, terutama terkait pasokan listrik yang masih mengandalkan generator.
“Kendalanya memang listrik karena masih mengandalkan genset. Kami terus berupaya meningkatkan fasilitas dan sarana umum untuk kenyamanan wisatawan,” katanya.
Sementara itu, wisatawan berharap peningkatan fasilitas umum dapat menjadi perhatian ke depan. Irma, pengunjung asal Kota Serang, mengaku terkesan dengan kebersihan pantai dan kejernihan laut di Pulau Peucang. Namun ia berharap ketersediaan toilet dan air bersih dapat semakin ditingkatkan.
Harapan serupa disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eli Susiyanti. Menurutnya, Pulau Peucang memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi destinasi unggulan nasional tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
“Ada beberapa hal yang memang perlu diperbaiki seperti MCK dan sarana air bersih. Ke depan dengan sinergi pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan seluruh mitra pariwisata, kita berharap Pulau Peucang bisa berkembang lebih baik tanpa mengurangi kelestarian alamnya,” ujarnya.
Keindahan pantai, kekayaan hutan tropis, terumbu karang yang sehat, satwa liar, serta nilai sejarah yang dimiliki membuat Pulau Peucang menjadi destinasi yang meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pengunjung.
Tak sedikit wisatawan yang pulang membawa ribuan foto, pengalaman berharga, dan satu perasaan yang sama: ingin kembali menikmati keindahan surga tersembunyi di ujung barat Pulau Jawa tersebut.
Seperti yang diungkapkan Ayu sebelum meninggalkan Pulau Peucang, “Kalau sudah datang sekali, rasanya pengen balik lagi.”.***

