Petugas kesehatan melakukan pemantauan tumbuh kembang balita di salah satu posyandu di Kota Tangerang sebagai bagian dari program percepatan penurunan stunting.KILAS BANTEN – Kota Tangerang mencatat angka stunting yang masih bertahan di level 5,4 persen hingga Mei 2026. Data tersebut berasal dari Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM). Angka ini menunjukkan kondisi yang relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pemerintah daerah menegaskan bahwa situasi ini tidak boleh membuat lengah.
Pemerintah terus memperkuat langkah percepatan penurunan stunting melalui pendekatan lintas sektor. Fokus utama kini bergeser dari penanganan ke pencegahan. Strategi ini dipilih untuk menekan munculnya kasus baru sejak dini.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, menegaskan bahwa masih ada anak yang mengalami stunting dan membutuhkan perhatian serius. Ia menyebutkan bahwa program intervensi terus diperluas agar dampaknya lebih maksimal di masyarakat.
“Data E PPGBM hingga Mei 2026 menunjukkan prevalensi stunting di Kota Tangerang berada di angka 5,4 persen. Artinya, angkanya relatif stabil di kisaran lima persen. Namun, masih ada anak dengan kondisi stunting yang menjadi perhatian bersama,” ujar dr. Dini, Kamis, 11 Juni 2026.
Menurutnya, pendekatan penanganan stunting saat ini telah berubah. Jika sebelumnya fokus diarahkan pada balita yang sudah terdampak, kini pemerintah lebih menekankan pencegahan sejak awal siklus kehidupan.
Program pencegahan dimulai dari remaja. Pemerintah memberikan tablet tambah darah untuk mencegah anemia pada remaja putri. Langkah ini dinilai penting karena kondisi kesehatan remaja akan berpengaruh pada kehamilan di masa depan.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan juga diperkuat bagi calon pengantin. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan pasangan dalam kondisi sehat sebelum menikah. Setelah itu, pemantauan dilanjutkan pada ibu hamil melalui pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan.
“Fokus kami adalah mencegah agar tidak ada lagi anak stunting baru. Intervensi sudah dimulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga balita,” jelasnya.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan dinamika penurunan stunting di Kota Tangerang dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, angka stunting tercatat 19,1 persen. Tahun berikutnya turun menjadi 16,4 persen.
Meski sempat terhenti pada 2020 akibat pandemi, tren penurunan kembali berlanjut hingga 2022 yang mencapai 11,8 persen. Namun, pada 2023 angka tersebut sempat naik menjadi 17,6 persen. Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kembali program intervensi.
Pada 2024, angka stunting kembali turun signifikan menjadi 11,2 persen berdasarkan SSGI. Sementara itu, data 2025 tidak tersedia karena survei tidak dilakukan secara nasional.
Dr. Dini menegaskan bahwa keberhasilan penurunan stunting tidak hanya ditentukan oleh sektor kesehatan. Faktor lain seperti sanitasi, ekonomi keluarga, pola asuh, pendidikan, dan akses pangan bergizi juga berperan besar.
Ia menyebut sekitar 70 persen intervensi berasal dari sektor di luar kesehatan. Karena itu, kolaborasi lintas perangkat daerah, kader posyandu, PKK, dunia usaha, hingga masyarakat menjadi kunci utama.
Pemkot juga mengoptimalkan teknologi melalui aplikasi SIDATA yang terintegrasi dengan e-PPGBM. Sistem ini membantu pemantauan kondisi gizi anak secara cepat dan akurat.
Dengan strategi pencegahan berlapis dan kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Kota Tangerang berharap angka stunting dapat terus ditekan. Target akhirnya adalah menciptakan generasi yang lebih sehat, kuat, dan berkualitas di masa depan.***