Rahmat menegaskan, konsep literasi yang akan dikembangkan tidak terbatas pada pendidikan formal dan kegiatan membaca buku. Perpustakaan akan difungsikan sebagai ruang belajar lintas sektor. Bidang pendidikan, kesehatan, sosial, hingga pengembangan media kreatif, inovasi, seni, dan budaya akan diintegrasikan dalam berbagai program kegiatan.
Gedung Perpustakaan Kabupaten Serang juga dirancang dengan kapasitas yang relatif besar dibandingkan perpustakaan daerah lainnya. Bangunan ini memiliki luas sekitar 1.866 meter persegi dan terdiri dari dua lantai. Masing-masing lantai memiliki luas sekitar 933 meter persegi. Dengan kapasitas tersebut, perpustakaan diharapkan mampu menampung beragam aktivitas literasi masyarakat.
Saat ini, DPKD Kabupaten Serang tengah menyusun konsep manajemen operasional agar seluruh ruang dapat dimanfaatkan secara efektif dan berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami sedang menyusun konsep operasionalnya. Tim di DPKD menyiapkan sistem pengelolaan perpustakaan ke depan agar ruang yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Rahmat.
Ia menambahkan, konsep utama yang akan diusung adalah hospitality atau keramahan layanan. Melalui pendekatan ini, perpustakaan diposisikan sebagai ruang publik yang ramah, terbuka, dan menjadi milik bersama seluruh elemen masyarakat.
“Perpustakaan ini harus menjadi milik kita bersama. Komunitas pers, pendidikan, kesehatan, seni, budaya, hingga masyarakat umum harus merasa memiliki,” jelasnya.
Rahmat juga menekankan peran strategis literasi dalam membangun peradaban dan mendorong perubahan sosial. Menurutnya, literasi tidak selalu identik dengan buku. Literasi bisa hadir melalui pengalaman, diskusi, cerita antargenerasi, hingga penggalian sejarah lokal Kabupaten Serang, Banten, dan Indonesia.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















