Banten Tancap Gas Jadi Lumbung Jagung Nasional, Pemprov Pastikan Sawah Tak Tergusur

Kilas Banten
15 Mei 2026 14:05
Banten 0
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Pemerintah Provinsi Banten mulai mempercepat program perluasan tanam jagung untuk mendukung swasembada pangan nasional. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak dan konsumsi masyarakat.

 

Namun, di balik program tersebut muncul kekhawatiran soal potensi alih fungsi lahan pertanian. Warga menilai perluasan areal jagung bisa mengancam keberadaan sawah produktif yang selama ini menjadi penopang ketahanan pangan daerah.

 

Menjawab kekhawatiran itu, Pemprov Banten memastikan pengembangan jagung tidak dilakukan di lahan sawah aktif. Pemerintah menegaskan program tersebut justru memanfaatkan lahan yang selama ini terbengkalai dan belum produktif.

 

Pemprov Banten memilih skema pengembangan berbasis lahan tidur, kawasan bekas tambang, hingga lahan kehutanan produksi dengan sistem tumpangsari. Strategi ini dinilai mampu meningkatkan produksi jagung tanpa mengurangi luas lahan pertanian pangan.

 

Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya pengawasan tata ruang agar tidak terjadi alih fungsi lahan secara liar. Langkah itu dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pengembangan komoditas jagung dan keberlanjutan produksi beras di Banten.

 

Program tanam jagung ini menjadi bagian dari strategi besar Pemprov Banten untuk memperkuat ketahanan pangan daerah. Selain itu, program tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor jagung.

 

Lahan yang digunakan dalam program ini mencakup lahan milik pemerintah maupun masyarakat yang belum dimanfaatkan secara optimal. Beberapa di antaranya berupa semak belukar, bekas kebun, lahan sela kawasan hutan, serta lahan bekas tambang yang telah direklamasi.

 

Di kawasan kehutanan produksi, pola tumpangsari diterapkan dengan menanam jagung di sela tanaman keras seperti jati dan mahoni. Sementara di lahan bekas tambang, pengembangan dilakukan melalui reklamasi dan revegetasi produktif agar lahan kembali memiliki nilai ekonomi.

 

Program ini juga didorong oleh tingginya kebutuhan industri pakan ternak di Banten. Saat ini terdapat 14 pabrik pakan ternak yang membutuhkan sekitar 4.000 ton jagung setiap hari.

 

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pemprov Banten bersama Kementerian Pertanian menyiapkan sekitar 9.000 hektare lahan kosong untuk ditanami jagung hibrida.

 

Gubernur Banten, Andra Soni, mengatakan program ini diharapkan mampu memperkuat posisi Banten sebagai salah satu sentra jagung nasional.

 

“Target produksi yang kita harapkan 52.000 ton jagung pipil kering,” ujar Andra Soni dalam rilis Biro Adpim Provinsi Banten, Jumat, 15 Mei 2026.

 

Kabupaten Pandeglang masih menjadi daerah penghasil jagung terbesar di Provinsi Banten. Produksi jagung di wilayah tersebut mencapai 20.047 ton atau sekitar 69,44 persen dari total produksi jagung Banten.

 

Kawasan pengembangan utama berada di Kecamatan Cikeusik, Cimanggu, dan Cigeulis. Wilayah ini dinilai memiliki karakteristik lahan yang cocok untuk budidaya jagung, baik di lahan tegalan maupun sawah tadah hujan.

 

Sementara itu, Kabupaten Lebak menghasilkan sekitar 4.533 ton jagung atau menyumbang 15,70 persen terhadap total produksi Banten. Pengembangan jagung di wilayah tersebut memanfaatkan lahan kering dan lahan sela.

 

Perluasan areal tanam baru di Kabupaten Lebak dilakukan di Desa Bulakan, Kecamatan Gunung Kencana. Program tersebut dijalankan bersama Perhutani melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan atau LMDH.

 

Di Kabupaten Serang, produksi jagung mencapai 3.554 ton atau sekitar 12,31 persen dari total produksi Banten. Pengembangan jagung di daerah ini umumnya dilakukan secara musiman, terutama di lahan yang tidak digunakan untuk tanaman padi pada musim tertentu.

 

Desa Pagintungan dan Desa Cemplang menjadi salah satu kawasan pengembangan baru jagung di Kabupaten Serang.

 

Berdasarkan data sementara tahun 2025, produksi jagung Banten mencapai 28.869 ton dengan luas panen sekitar 5.117 hektare. Rata-rata produktivitas tercatat sebesar 5,42 kuintal per hektare.

 

Data tersebut menunjukkan sektor jagung di Banten terus berkembang. Meski begitu, pemerintah masih perlu memperkuat dukungan sarana produksi dan perluasan areal tanam agar target swasembada pangan dapat tercapai.***