Di kawasan kehutanan produksi, pola tumpangsari diterapkan dengan menanam jagung di sela tanaman keras seperti jati dan mahoni. Sementara di lahan bekas tambang, pengembangan dilakukan melalui reklamasi dan revegetasi produktif agar lahan kembali memiliki nilai ekonomi.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Program ini juga didorong oleh tingginya kebutuhan industri pakan ternak di Banten. Saat ini terdapat 14 pabrik pakan ternak yang membutuhkan sekitar 4.000 ton jagung setiap hari.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pemprov Banten bersama Kementerian Pertanian menyiapkan sekitar 9.000 hektare lahan kosong untuk ditanami jagung hibrida.
Gubernur Banten, Andra Soni, mengatakan program ini diharapkan mampu memperkuat posisi Banten sebagai salah satu sentra jagung nasional.
“Target produksi yang kita harapkan 52.000 ton jagung pipil kering,” ujar Andra Soni dalam rilis Biro Adpim Provinsi Banten, Jumat, 15 Mei 2026.
Kabupaten Pandeglang masih menjadi daerah penghasil jagung terbesar di Provinsi Banten. Produksi jagung di wilayah tersebut mencapai 20.047 ton atau sekitar 69,44 persen dari total produksi jagung Banten.
Kawasan pengembangan utama berada di Kecamatan Cikeusik, Cimanggu, dan Cigeulis. Wilayah ini dinilai memiliki karakteristik lahan yang cocok untuk budidaya jagung, baik di lahan tegalan maupun sawah tadah hujan.
Sementara itu, Kabupaten Lebak menghasilkan sekitar 4.533 ton jagung atau menyumbang 15,70 persen terhadap total produksi Banten. Pengembangan jagung di wilayah tersebut memanfaatkan lahan kering dan lahan sela.
Penulis : Wahyu
Editor : Taufik
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















