Menurut Hok Tjuan, hasil panen maggot tidak hanya membantu mengurangi sampah kota, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak ikan, ayam, bebek, hingga udang.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengungkapkan kandungan protein maggot BSF mencapai 58,6 persen berdasarkan hasil uji laboratorium. Kandungan itu dinilai sangat baik untuk mendukung pertumbuhan ternak.
“Kami ingin membantu peternak mendapatkan pakan berkualitas dengan harga lebih murah. Harga pakan dari maggot ini hampir separuh dari harga pakan komersial di pasaran,” katanya.
Program tersebut mendapat apresiasi dari pengelola Pasar Anyar Tangerang. Kepala Unit Pasar Anyar, Achmad Junaidi, menyebut inovasi pengolahan sampah berbasis maggot memberikan dampak besar terhadap kebersihan lingkungan pasar.
Sebelum program berjalan, volume sampah di Pasar Anyar mencapai lima hingga enam kontainer setiap hari atau sekitar 20 hingga 24 ton. Setelah pengolahan limbah diterapkan, jumlah sampah turun drastis menjadi sekitar dua kontainer atau delapan ton per hari.
“Dampaknya sangat terasa. Sampah organik diolah menjadi maggot, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kardus, dan botol juga kami kelola untuk didaur ulang,” ujar Junaidi.
Ia menambahkan, hasil penjualan sampah anorganik turut dimanfaatkan untuk membantu kesejahteraan petugas kebersihan pasar.
Tak berhenti pada pengelolaan limbah, pihak pengelola juga menyiapkan pengembangan kawasan menjadi pusat edukasi urban farming dan ketahanan pangan.
Area pengolahan sampah yang berada di bagian atas Pasar Anyar rencananya akan diubah menjadi ruang pembelajaran terbuka bagi masyarakat, pelajar, hingga komunitas peduli lingkungan.
Penulis : Wahyu
Editor : Taufik
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





















