Meski tanpa siswa, para guru tetap menjalankan kewajiban mereka. Seluruh tenaga pendidik hadir di sekolah seperti biasa. Mereka tetap siap melaksanakan kegiatan belajar mengajar sesuai aturan yang berlaku.
“Guru tetap masuk seperti biasa. Tidak ada guru yang ikut berangkat. Situasi ini murni karena siswa dibawa oleh orang tua mereka,” kata Abidin.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengakui, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Sekolah dituntut menjaga konsistensi kegiatan belajar, sementara di sisi lain harus menghormati tradisi masyarakat yang sudah mengakar kuat.
Menurutnya, pendekatan yang terlalu kaku justru berpotensi menimbulkan resistensi dari warga. Oleh karena itu, diperlukan langkah yang bijak dan komunikatif agar kedua kepentingan dapat berjalan seimbang.
“Ini sudah menjadi tradisi masyarakat. Jika dipaksakan, bisa memicu penolakan. Namun kami tetap menegaskan bahwa kegiatan belajar harus berjalan,” ujarnya.
Sebagai langkah ke depan, Dindikbud Kabupaten Serang akan memperketat pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Selain itu, pihak sekolah diminta lebih aktif memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan pendidikan anak.
Abidin menekankan pentingnya sinergi antara sekolah dan masyarakat. Ia menilai pendidikan harus tetap menjadi prioritas utama, tanpa mengabaikan nilai sosial yang berkembang di lingkungan sekitar.
“Ke depan akan kami pertegas. KBM harus tetap berjalan dalam kondisi apa pun. Sekolah juga harus menyampaikan kepada orang tua bahwa pendidikan anak tidak boleh terganggu,” tegasnya.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















