Hasil rukyat dari Banten langsung dilaporkan ke Kementerian Agama RI di Jakarta. Pemerintah pusat akan mengompilasi data dari seluruh titik pemantauan di Indonesia sebelum menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah melalui sidang isbat.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Kendati demikian, Wakil Rektor II UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Ali Muhtarom, membenarkan hasil tersebut. Ia menyatakan ketinggian hilal masih minus 1 derajat. Kondisi langit yang sempat mendung lalu cerah tidak mengubah fakta astronomis itu.
“Secara umum hilal memang tidak nampak. Meski tadi ada mendung dan juga sempat cerah, tetapi secara ketinggian masih minus satu derajat. Standar itu 3 derajat. Jadi memang jauh,” jelas Ali.
Dengan posisi tersebut, bulan Syaban diperkirakan digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal. Jika skenario ini berlaku secara nasional, maka awal puasa Ramadhan 2026 berpotensi dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026.
Ali menilai kemungkinan itu cukup besar. Ia merujuk pada kriteria imkanur rukyat yang digunakan pemerintah. Jika tinggi hilal secara nasional tidak mencapai 3 derajat, maka mayoritas wilayah yang memakai metode rukyat akan memulai puasa pada Kamis.
“Kalau akumulasi nasional tidak memenuhi 3 derajat, maka hampir dipastikan yang menggunakan metode rukyat akan memulai puasa pada Kamis,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, Indonesia mengenal perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah. Sebagian kelompok menggunakan metode hisab wujudul hilal. Metode ini tidak selalu menunggu konfirmasi visual.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















