“Perbedaan itu hal biasa. Bagi yang sudah melaksanakan tarawih malam ini berdasarkan keyakinannya, itu sah-sah saja. Ini soal metodologi dan keyakinan,” kata Ali.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengimbau masyarakat menjaga toleransi jika terjadi perbedaan awal puasa Ramadhan 2026. Menurutnya, semangat tasamuh harus dikedepankan.
“Yang penting kita saling memahami. Jangan merasa paling benar. Kita sama-sama menegakkan nilai rahmatan lil alamin,” tegasnya.
Tim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut mendampingi proses observasi. Petugas BMKG, Margi, menjelaskan timnya memulai persiapan sejak pukul 13.00 WIB. Mereka menghitung koordinat lokasi, ketinggian tempat, waktu terbenam matahari dan bulan, serta sudut elongasi.
“Kami tentukan dulu koordinat lokasi, ketinggian tempat, waktu terbenam matahari dan bulan, serta sudut elongasi. Setelah itu alat diarahkan sesuai posisi bulan yang diprediksi,” jelasnya.
BMKG menggunakan teropong standar yang dipakai dalam rukyat di berbagai daerah. Namun data menunjukkan bulan lebih dulu terbenam dibanding matahari. Situasi itu membuat hilal tidak mungkin terlihat secara kasat mata.
Dekan Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Iin Ratna Sumirat, menilai kegiatan rukyat ini penting sebagai sarana edukasi publik. Ia menekankan bahwa penentuan awal Ramadhan memadukan metode hisab dan rukyat.
“Penentuan awal Ramadhan memang menggunakan metode hisab. Tetapi hari ini kita membuktikan secara rukyat. Jadi ada pembuktian antara perhitungan dan pengamatan langsung,” ujarnya.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















