Prof Muhammad Ishom menyampaikan gagasan Mabadi Khoiru Ummah dalam forum Refleksi Akhir Tahun PWNU Sulawesi Tenggara di Kota Kendari, Minggu, 28 Desember 2025“Mengutip pesan Imam al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah serta dawuh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang menegaskan bahwa pengkhianatan terhadap amanah akan meruntuhkan martabat seseorang, baik di hadapan manusia maupun di sisi Allah,” katanya.
Nilai keadilan juga mendapat penekanan kuat. Prof Ishom menegaskan NU harus konsisten menjaga prinsip tawassuth, tawazun, dan tasamuh. Keadilan, menurutnya, menjadi kunci NU dalam merawat harmoni sosial serta memperkuat persatuan bangsa di tengah perbedaan pandangan, latar belakang, dan kepentingan.
Ia juga menyoroti pentingnya at-ta‘awun sebagai ciri khas NU yang berakar kuat pada tradisi gotong royong dan jamaah. Prof Ishom mengutip QS Al-Ma’idah ayat 2 dan menegaskan bahwa sesama mukmin ibarat bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.
Menutup pemaparannya, Prof Ishom menekankan nilai istiqamah. Ia mengingatkan bahwa sejarah NU, mulai dari Resolusi Jihad 1945 hingga Khittah 1926, menunjukkan keteguhan ulama dalam menjaga agama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Di tengah tantangan politik tanpa etika, korupsi, maraknya hoaks, dan lunturnya adab, ia mengajak seluruh kader NU kembali pada Mabadi Khoiru Ummah demi menjaga NU, agama, dan masa depan umat”.