Pendaftar UM-PTKIN 2026 Tembus 60 Ribu, Panitia Bongkar Jurus Rahasia Jaga Seleksi Tetap Bersih dan Anti Curang

Kilas Banten
17 Mei 2026 06:00
4 menit membaca

KILAS BANTEN – Minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) terus menunjukkan tren peningkatan. Hingga pertengahan Mei 2026, jumlah pendaftar Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) tercatat telah menembus angka 60 ribu peserta.

 

Lonjakan pendaftar tersebut diumumkan Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTKIN dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta. Kegiatan itu turut dihadiri pimpinan PTKIN dari berbagai daerah di Indonesia.

 

Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN, Prof. Dr. Abd Aziz, mengatakan angka pendaftar diperkirakan masih akan terus bertambah hingga penutupan pendaftaran pada 30 Mei 2026.

 

Menurutnya, tingginya antusiasme calon mahasiswa tidak lepas dari banyaknya siswa yang masih menunggu hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Kondisi itu membuat UM-PTKIN menjadi salah satu jalur alternatif favorit bagi lulusan sekolah menengah.

 

“Saat ini sudah ada sekitar 60 ribu pendaftar dari total daya tampung sekitar 80 ribu kursi. Kami masih memiliki waktu sekitar 17 hari dan jumlah pendaftar terus bertambah setiap hari,” ujar Prof. Aziz, Minggu, 17 Mei 2026.

 

Ia menjelaskan, PTKIN kini semakin diminati karena tidak hanya menawarkan pendidikan berbasis keislaman, tetapi juga menyediakan berbagai program studi umum yang dinilai mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, PTKIN dinilai berhasil membangun citra sebagai kampus modern dengan kombinasi pendidikan agama dan penguasaan ilmu pengetahuan umum. Hal itu membuat banyak siswa mulai melirik kampus Islam negeri sebagai pilihan utama untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

 

Meski demikian, panitia mengakui masih ada tantangan yang dihadapi, terutama terkait rendahnya minat terhadap sejumlah program studi keagamaan. Beberapa jurusan seperti Akidah dan Filsafat Islam serta Ilmu Hadis disebut masih minim peminat dibanding program studi lain.

 

Prof. Aziz menegaskan program studi tersebut memiliki posisi penting karena menjadi identitas utama PTKIN. Karena itu, pihaknya tidak ingin jurusan-jurusan tersebut perlahan hilang akibat minimnya jumlah mahasiswa.

 

“Program studi ini adalah ruh PTKIN. Karena itu kami tidak ingin prodi-prodi tersebut hilang akibat minim peminat,” katanya.

 

Untuk menjaga keberlangsungan program studi tersebut, panitia bersama kampus PTKIN menyiapkan berbagai skema bantuan pendidikan. Salah satunya melalui program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) serta dukungan beasiswa internal dari masing-masing kampus.

 

Panitia berharap kebijakan itu dapat menarik minat calon mahasiswa agar tetap memilih jurusan-jurusan keagamaan yang selama ini menjadi fondasi pendidikan Islam di lingkungan PTKIN.

 

“Kami menyiapkan beasiswa khusus bagi mahasiswa yang memilih prodi dengan peminat rendah agar program studi itu tetap eksis,” jelas Prof. Aziz.

 

Sementara itu, Koordinator Penjamin Mutu PMB PTKIN, Prof. Zulfahmi Alwi, memastikan proses seleksi tahun ini berjalan objektif dan transparan. Panitia disebut melakukan pengawasan ketat terhadap seluruh tahapan ujian berbasis Sistem Seleksi Elektronik (SSE).

 

Menurutnya, kualitas pelaksanaan ujian menjadi perhatian utama agar hasil seleksi benar-benar mencerminkan kemampuan peserta secara adil.

 

“Kami memastikan standar mutu terpenuhi dari awal hingga akhir. Sinkronisasi dilakukan antara tim pembuat soal dan tim sistem agar ujian berlangsung objektif,” ujar Prof. Zulfahmi.

 

Pengawasan juga dilakukan terhadap seluruh petugas pelaksana di titik lokasi ujian untuk menjaga integritas seleksi nasional tersebut. Panitia ingin memastikan tidak ada celah kecurangan selama pelaksanaan ujian berlangsung.

 

Selain penguatan sistem pengawasan, panitia juga memastikan kesiapan fasilitas penunjang di seluruh kampus PTKIN yang menjadi lokasi ujian.

 

Bendahara Forum Pimpinan PTKN, Prof. Dr. Mairtin Kustanti, mengatakan dukungan anggaran telah disesuaikan dengan kebutuhan teknis di lapangan, termasuk penyediaan fasilitas bagi peserta disabilitas.

 

“Kami memastikan anggaran diarahkan untuk memperkuat sarana dan prasarana ujian, termasuk fasilitas bagi peserta disabilitas. Kami ingin pelaksanaan ujian berjalan tanpa kendala teknis,” katanya.

 

Panitia berharap UM PTKIN 2026 dapat berlangsung lancar dan mampu menjaring calon mahasiswa terbaik dari seluruh daerah di Indonesia. Dengan sistem seleksi yang transparan serta dukungan fasilitas yang semakin lengkap, PTKIN optimistis kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan tinggi Islam negeri akan terus meningkat.***