Aktivitas pekerja di kawasan industri. Meningkatnya kasus PHK sepihak memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor usaha.
Noviardi mengingatkan bahwa dampak PHK tidak hanya dirasakan oleh pekerja yang kehilangan sumber pendapatan. Efeknya juga dapat menjalar ke berbagai sektor ekonomi lainnya. Ketika pendapatan masyarakat menurun, kemampuan konsumsi rumah tangga ikut melemah. Padahal, konsumsi masyarakat selama ini menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah.
Menurutnya, jika tren PHK terus meningkat tanpa langkah pengendalian yang efektif, berbagai sektor usaha akan ikut terkena dampaknya. Sektor perdagangan, jasa, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpotensi mengalami penurunan aktivitas ekonomi akibat melemahnya daya beli masyarakat.
“Kalau angka PHK meningkat dan tidak terkendali, efek domino yang muncul cukup besar. Daya beli masyarakat melemah, konsumsi turun, sektor perdagangan ikut tertekan, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi daerah juga bisa melambat,” katanya.
Selain ancaman terhadap perekonomian, Noviardi juga menyoroti risiko munculnya persoalan sosial yang lebih luas apabila konflik antara perusahaan dan pekerja tidak diselesaikan dengan baik. Ketegangan hubungan industrial dapat memengaruhi stabilitas daerah dan berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan investor terhadap iklim usaha.
Ia menilai dunia usaha membutuhkan kepastian agar tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah tekanan ekonomi. Di sisi lain, para pekerja juga memerlukan jaminan perlindungan hak serta kepastian dalam menjalankan pekerjaannya. Ketidakseimbangan antara dua kepentingan tersebut dapat menciptakan ketidakpastian yang merugikan seluruh pihak.