Momentum baru muncul pada era reformasi 1998. Perubahan iklim politik nasional membuka ruang bagi daerah untuk menyuarakan aspirasi secara lebih terbuka. Tokoh-tokoh Banten seperti Uwes Qorny, Mochtar Mandala, KH Embay Mulya Syarief, Soerjadi Soedirja, Hariri Hady, Matin Syarkowi, dan lainnya kembali mengonsolidasikan kekuatan.
Sehari setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri, tepatnya 20 Mei 1998, ribuan warga Banten mendatangi Gedung DPR/MPR di Senayan. Aksi tersebut dipimpin KH Embay Mulya Syarief bersama tokoh-tokoh muda. Mereka menyatakan dukungan kepada BJ Habibie sebagai Presiden RI sekaligus menyuarakan harapan agar Banten menjadi provinsi.
Di tengah dinamika itu, peran KH Ahmad Aminudin Ibrahim menjadi sangat krusial. Pada Jumat, 5 Februari 1998, Presiden BJ Habibie melakukan kunjungan ke Banten dan singgah di Pondok Pesantren Darul Iman, Kadu Pandak, Banjar, Pandeglang. Pesantren tersebut diasuh KH Ahmad Aminudin Ibrahim, ulama yang memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pertemuan tersebut, KH Ahmad Aminudin Ibrahim secara langsung mengusulkan agar wilayah eks Keresidenan Banten ditingkatkan statusnya menjadi provinsi. Usulan itu disampaikan secara terbuka dan lugas di hadapan Presiden. BJ Habibie merespons dengan positif. Ia menyatakan tidak keberatan, namun menegaskan bahwa pembentukan provinsi harus mengikuti mekanisme konstitusional.
Pernyataan Presiden tersebut menjadi titik balik perjuangan Banten. Proses politik kemudian berjalan di tingkat nasional hingga akhirnya Provinsi Banten resmi berdiri pada tahun 2000.
Penulis : Dayat
Editor : Rizki
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















