Tim Kemenag Banten bersama BMKG melakukan rukyatul hilal di Gedung Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Selasa, 17 Februari 2026KILAS BANTEN – Penentuan awal puasa Ramadhan 2026 di Banten mengerucut pada satu fakta. Hilal tidak terlihat. Hasil rukyatul hilal yang digelar di Gedung Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Selasa, 17 Februari 2026, menunjukkan posisi bulan masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Banten, Amrullah, memastikan hasil tersebut berdasarkan pengamatan langsung dan perhitungan astronomi. Ia menyebut matahari terbenam pada pukul 18.17.51 WIB. Sementara bulan lebih dulu tenggelam pada pukul 18.14.55 WIB.
“Kita sudah melewati pukul 18.24 WIB. Matahari terbenam pukul 18.17.51 WIB. Sementara bulan terbenam lebih dulu, yakni pukul 18.14.55 WIB. Artinya bulan lebih dulu terbenam sekitar tiga menit sebelum matahari,” ujar Amrullah di lokasi pemantauan.
Selisih waktu itu membuat hilal mustahil terlihat. Secara astronomis, posisi bulan tercatat minus 1 derajat. Angka tersebut masih jauh dari kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat.
“Kalau elongasinya masih minus satu derajat, tentu belum memenuhi kriteria. Jadi untuk hari ini hilal tidak terlihat,” tegasnya.
Amrullah menegaskan cuaca bukan faktor utama. Menurut dia, data hisab sudah menunjukkan sejak awal bahwa posisi bulan belum memenuhi syarat imkanur rukyat.
“Cuaca tidak berpengaruh signifikan. Ini memang hasil perhitungan dan pantauan langsung. Secara posisi memang belum memenuhi syarat,” katanya.
Hasil rukyat dari Banten langsung dilaporkan ke Kementerian Agama RI di Jakarta. Pemerintah pusat akan mengompilasi data dari seluruh titik pemantauan di Indonesia sebelum menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah melalui sidang isbat.
Kendati demikian, Wakil Rektor II UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Ali Muhtarom, membenarkan hasil tersebut. Ia menyatakan ketinggian hilal masih minus 1 derajat. Kondisi langit yang sempat mendung lalu cerah tidak mengubah fakta astronomis itu.
“Secara umum hilal memang tidak nampak. Meski tadi ada mendung dan juga sempat cerah, tetapi secara ketinggian masih minus satu derajat. Standar itu 3 derajat. Jadi memang jauh,” jelas Ali.
Dengan posisi tersebut, bulan Syaban diperkirakan digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal. Jika skenario ini berlaku secara nasional, maka awal puasa Ramadhan 2026 berpotensi dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026.
Ali menilai kemungkinan itu cukup besar. Ia merujuk pada kriteria imkanur rukyat yang digunakan pemerintah. Jika tinggi hilal secara nasional tidak mencapai 3 derajat, maka mayoritas wilayah yang memakai metode rukyat akan memulai puasa pada Kamis.
“Kalau akumulasi nasional tidak memenuhi 3 derajat, maka hampir dipastikan yang menggunakan metode rukyat akan memulai puasa pada Kamis,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, Indonesia mengenal perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah. Sebagian kelompok menggunakan metode hisab wujudul hilal. Metode ini tidak selalu menunggu konfirmasi visual.
“Perbedaan itu hal biasa. Bagi yang sudah melaksanakan tarawih malam ini berdasarkan keyakinannya, itu sah-sah saja. Ini soal metodologi dan keyakinan,” kata Ali.
Ia mengimbau masyarakat menjaga toleransi jika terjadi perbedaan awal puasa Ramadhan 2026. Menurutnya, semangat tasamuh harus dikedepankan.
“Yang penting kita saling memahami. Jangan merasa paling benar. Kita sama-sama menegakkan nilai rahmatan lil alamin,” tegasnya.
Tim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut mendampingi proses observasi. Petugas BMKG, Margi, menjelaskan timnya memulai persiapan sejak pukul 13.00 WIB. Mereka menghitung koordinat lokasi, ketinggian tempat, waktu terbenam matahari dan bulan, serta sudut elongasi.
“Kami tentukan dulu koordinat lokasi, ketinggian tempat, waktu terbenam matahari dan bulan, serta sudut elongasi. Setelah itu alat diarahkan sesuai posisi bulan yang diprediksi,” jelasnya.
BMKG menggunakan teropong standar yang dipakai dalam rukyat di berbagai daerah. Namun data menunjukkan bulan lebih dulu terbenam dibanding matahari. Situasi itu membuat hilal tidak mungkin terlihat secara kasat mata.
Dekan Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Iin Ratna Sumirat, menilai kegiatan rukyat ini penting sebagai sarana edukasi publik. Ia menekankan bahwa penentuan awal Ramadhan memadukan metode hisab dan rukyat.
“Penentuan awal Ramadhan memang menggunakan metode hisab. Tetapi hari ini kita membuktikan secara rukyat. Jadi ada pembuktian antara perhitungan dan pengamatan langsung,” ujarnya.
Menurut Iin, kedua metode memiliki dasar ilmiah dan legitimasi syar’i. Ia menegaskan yang tidak dibenarkan adalah ketika seseorang tidak berpuasa padahal pemerintah telah menetapkan masuknya Ramadhan.
“Perbedaan metode itu biasa. Yang salah itu kalau sudah masuk Ramadhan tapi tidak berpuasa,” katanya.
Dengan hasil hilal minus 1 derajat di Banten, sinyal kuat mengarah pada penetapan 1 Ramadhan 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Februari 2026. Meski demikian, kepastian resmi tetap menunggu keputusan sidang isbat Kementerian Agama RI setelah menerima laporan dari seluruh Indonesia.***