GUSDURian Gelar Nobar “Pesta Babi” di Kota Serang Guncang Isu Papua, Kolonialisme Modern Disorot Tajam

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pamflet nobar dan diskusi film “Pesta Babi” GUSDURian Serang Raya bertempat di Padepokan Kupi, Serang, yang mengangkat isu konflik agraria dan kolonialisme modern di Papua.

i

Pamflet nobar dan diskusi film “Pesta Babi” GUSDURian Serang Raya bertempat di Padepokan Kupi, Serang, yang mengangkat isu konflik agraria dan kolonialisme modern di Papua.

KILAS BANTEN – Komunitas GUSDURian Serang Raya menggelar nonton bareng (nobar) film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” pada Sabtu, 25 April 2026 pukul 15.00 WIB di Padepokan Kupi, Kaloran, Kota Serang, Banten. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan film, tetapi juga menghadirkan diskusi terbuka yang mengupas isu konflik agraria dan dugaan praktik kolonialisme modern di Papua.

 

Sejak awal, acara ini dirancang sebagai ruang refleksi publik. Penyelenggara ingin menggabungkan kebudayaan, realitas sosial, dan pemikiran kritis dalam satu forum. Film digunakan sebagai medium untuk menyampaikan pesan visual. Sementara diskusi menjadi sarana membedah lebih dalam persoalan yang diangkat.

ADVERTISEMENT

, ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Isu penggusuran dan pengambilalihan tanah di Papua menjadi fokus utama. Praktik tersebut dinilai kerap terjadi dengan dalih pembangunan. Dampaknya, masyarakat adat berada dalam posisi rentan. Mereka berisiko kehilangan ruang hidup sekaligus identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga  Budi Rustandi dan Nur Agis Aulia Resmi Dilantik, Ketua DPD PKS Kota Serang Berikut Ucapan Selamat

 

Dalam konteks ini, tanah tidak hanya dipahami sebagai aset ekonomi. Tanah memiliki nilai sosial dan kultural yang kuat. Bagi masyarakat adat, tanah adalah bagian dari kehidupan dan jati diri. Ketika tanah berpindah tangan tanpa keterlibatan mereka, konflik pun sulit dihindari.

 

Para narasumber dalam diskusi akan mengulas persoalan ini dari perspektif politik agraria dan hukum adat. Mereka menjelaskan bagaimana struktur kekuasaan dapat membentuk legitimasi atas penguasaan lahan. Dalam praktiknya, kebijakan yang lahir sering kali tidak berpihak pada masyarakat lokal.

Penulis : Dayat

Editor : Redaksi Kilas Banten

Sumber Berita: KILASBANTEN.COM

Follow WhatsApp Channel www.kilasbanten.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Revisi RTRW Kabupaten Serang, DPRD Tegaskan Sawah Tak Boleh Kurangi Sejengkal Pun
Perda Puspemkab Serang Dipoles Ulang, DPRD Siap Bahas Awal Mei 2026
Heboh Sekolah Kosong Tanpa Siswa di SDN Teras 1 Carenang Serang, Dindikbud Bongkar Fakta Sebenarnya
Pemkab Serang Tegaskan Komitmen Pembangunan Berkelanjutan Lewat Musrenbang RKPD 2027
Dipimpin Budi Rustandi, IDSD 2025 Kota Serang Lampaui Rata-Rata Nasional dan Provinsisi”
Akhir Penantian 30 Tahun, Jembatan Mekarsari Segera Dibangun, Dewan Muhibbin: Dongkrak Ekonomi Warga Kabupaten Serang
Sambut Muktamar NU ke-35, PCNU Kota Serang: Kembali ke Khittah dan Perkuat Solidaritas di Tengah Tekanan Global
PHK Sepihak dan THR Tak Dibayar, PT Asietex Disorot: Mediasi Mandek, Buruh Tuntut Kepastian
Komunitas GUSDURian Serang Raya gelar nobar film “Pesta Babi” dan diskusi konflik agraria Papua. Isu kolonialisme modern dan hak masyarakat adat jadi sorotan.

Berita Terkait

-

Revisi RTRW Kabupaten Serang, DPRD Tegaskan Sawah Tak Boleh Kurangi Sejengkal Pun

-

GUSDURian Gelar Nobar “Pesta Babi” di Kota Serang Guncang Isu Papua, Kolonialisme Modern Disorot Tajam

-

Perda Puspemkab Serang Dipoles Ulang, DPRD Siap Bahas Awal Mei 2026

-

Heboh Sekolah Kosong Tanpa Siswa di SDN Teras 1 Carenang Serang, Dindikbud Bongkar Fakta Sebenarnya

-

Dipimpin Budi Rustandi, IDSD 2025 Kota Serang Lampaui Rata-Rata Nasional dan Provinsisi”

Berita Terbaru