Penggerak GUSDURian Serang Raya sekaligus panitia kegiatan, Ali Martua Nasution, menegaskan bahwa forum ini bertujuan membuka ruang dialog yang kritis dan reflektif. Ia menilai tema yang diangkat memiliki relevansi kuat dengan kondisi sosial saat ini.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin menghadirkan ruang bersama untuk membaca ulang realitas. Kolonialisme tidak benar-benar hilang. Ia hadir dalam bentuk baru melalui kebijakan dan praktik pembangunan,” ujar Ali, Jumat, 24 April 2026.
Ia menambahkan, kegiatan ini diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif. Terutama dalam melihat dampak konflik agraria terhadap masyarakat adat di Papua. Menurutnya, publik perlu memahami persoalan ini secara lebih mendalam dan objektif.
Diskusi ini juga menghadirkan pemantik dari kalangan akademisi dan praktisi yang fokus pada isu agraria dan hukum adat. Mereka akan memaparkan kondisi konflik lahan secara komprehensif. Selain itu, mereka juga membahas tantangan dalam mewujudkan keadilan sosial bagi masyarakat adat.
Peserta yang hadir tidak hanya menjadi penonton. Mereka diajak aktif berdiskusi dan bertukar pandangan. Forum ini diharapkan mampu memperkaya perspektif dan memperluas pemahaman publik terhadap isu yang diangkat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya membangun kesadaran kritis di tengah masyarakat. Penyelenggara berharap, diskusi ini dapat mendorong kepedulian terhadap nilai keadilan dan kemanusiaan. Terutama bagi kelompok yang selama ini berada di posisi rentan.
Melalui nobar dan diskusi ini, publik diajak melihat persoalan agraria sebagai isu struktural yang lebih luas. Bukan sekadar konflik lokal, tetapi bagian dari dinamika kekuasaan yang kompleks.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















