Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Prof. Muhammad Ishom bersama jajaran pimpinan kampus saat melakukan pembahasan masterplan green campus dan transformasi digital bersama tim ITB di Bandung, Jumat, 8 Mei 2026.KILAS BANTEN – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mulai menyiapkan transformasi besar menuju kampus modern berbasis green campus dan digitalisasi terintegrasi. Kampus Islam negeri terbesar di Provinsi Banten itu menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk memperkuat arah pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Langkah strategis tersebut dibahas dalam pertemuan resmi di Ruang Seminar Lantai 2 Labtek IX A Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, Jumat, 8 Mei 2026.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Muhammad Ishom, hadir langsung bersama jajaran pimpinan kampus. Dari pihak ITB, pertemuan dihadiri Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan Prof. Ir. Agus Jatnika beserta tim ahli penyusun masterplan kampus.
Prof. Muhammad Ishom menegaskan, kerja sama dengan ITB bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Menurutnya, UIN Banten sedang membangun fondasi kampus masa depan yang modern, hijau, dan terintegrasi dengan teknologi digital.
“Kami sedang merancang green campus dan berharap kerja sama antara UIN Banten dan ITB dapat berjalan dengan baik sehingga menjadi fondasi pengembangan kampus di masa mendatang,” ujar Prof. Ishom, ditulis Sabtu, 9 Mei 2026.
Dalam pemaparan tim SAPPK ITB, konsep pengembangan kampus diberi nama “UIN Banten Integrated Green District”. Konsep tersebut mengedepankan kawasan pendidikan yang ramah lingkungan, efisien, modern, dan mendukung aktivitas akademik berbasis teknologi.
Berdasarkan hasil kajian, UIN Banten memiliki luas lahan mencapai 47,9 hektare. Dari total area tersebut, sedikitnya 49.167 meter persegi disiapkan sebagai ruang terbuka hijau untuk menjaga keseimbangan ekologis kawasan kampus.
ITB juga mendorong penerapan konsep kampus yang lebih ramah bagi pejalan kaki. Selain itu, pengembangan infrastruktur hijau dan pembangunan vertikal dinilai menjadi solusi agar pemanfaatan lahan lebih efektif tanpa mengurangi kualitas lingkungan.
Sejumlah fasilitas modern masuk dalam rancangan pengembangan tersebut. Mulai dari academic atrium, civic core, skybridge penghubung antarfakultas, smartpool multifungsi, laboratorium bahasa modern, data center, hingga gedung parkir terintegrasi.
Tak hanya fokus pada pembangunan fisik, UIN Banten juga mulai mempercepat transformasi digital secara menyeluruh. Kampus ingin membangun sistem layanan pendidikan yang lebih cepat, aman, dan terintegrasi.
Wakil Rektor ITB Prof. Agus Jatnika menilai pembangunan kampus harus dilakukan secara terpadu agar arah pengembangan tetap terjaga dalam jangka panjang.
“Kampus ideal harus dibangun melalui perencanaan terpadu antara masterplan fisik, akademik, dan penelitian,” kata Agus Jatnika.
Sementara itu, Tim Masterplan IT ITB yang dipimpin Prof. Jaka menegaskan bahwa transformasi digital bukan hanya menghadirkan perangkat teknologi baru. Menurutnya, perubahan harus menyentuh sistem tata kelola kampus secara menyeluruh.
“Ini bukan sekadar proyek TI, tetapi redesain kampus, layanan, energi, dan tata kelola,” tegas Prof. Jaka.
Dalam pemaparannya, tim ITB juga mengungkap sejumlah tantangan digital yang masih dihadapi UIN Banten. Mulai dari aplikasi yang berjalan sendiri-sendiri, lemahnya keamanan siber, hingga keterbatasan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi.
Sebagai solusi, ITB menawarkan konsep transformasi digital berbasis lima pilar utama. Program itu dirancang berjalan selama 36 bulan dengan estimasi investasi mencapai Rp210 miliar.
Program tersebut meliputi penguatan tata kelola digital melalui pembentukan Digital Transformation Office (DTO), modernisasi layanan kampus, integrasi data, penguatan keamanan siber, serta pembangunan infrastruktur digital berupa pusat data atau data center.
ITB juga menyiapkan program quick wins selama 90 hari pertama. Tahap awal itu mencakup pembentukan DTO, penyusunan kebijakan dasar transformasi digital, migrasi email institusi, penerapan Single Sign-On berbasis Google Workspace, hingga penguatan sistem keamanan digital.
Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian UIN Banten, Dr. Zaenuri, berharap masterplan tersebut tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan semata.
Ia menginginkan konsep pengembangan kampus divisualisasikan dalam bentuk maket fisik agar menjadi acuan pembangunan jangka panjang.
Menurut Zaenuri, keberadaan masterplan sangat penting untuk menjaga kesinambungan pembangunan kampus meski terjadi pergantian kepemimpinan di masa mendatang.
Dalam sesi diskusi, Kepala Bagian Umum UIN Banten Akhmad Taptajani juga meminta pengembangan jalan kampus dan pembangunan Gedung Layanan Kesehatan Masyarakat melalui skema SBSN tahun 2028 dimasukkan lebih rinci ke dalam masterplan.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa integrasi pembangunan fisik dan transformasi digital menjadi kunci utama untuk mewujudkan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sebagai kampus hijau, modern, terintegrasi, dan mampu bersaing di tingkat global.***