KILAS BANTEN – Dalam puisi “Kedai Kopi Pukul Sebelas Siang” karya Maya Lestari Gf., majas metafora menjadi salah satu elemen penting yang menjadikan puisi ini penuh nuansa emosi dan refleksi.
Majas metafora sendiri adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara implisit, tanpa menggunakan kata-kata pembanding seperti “seperti” atau “bagai”.
Melalui artikel ini, kita akan membahas Majas Metafora dalam Puisi Kedai Kopi Pukul Sebelas Siang, dan bagaimana metafora-metafora tersebut memperkuat pesan yang ingin disampaikan oleh penyair.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Puisi ini menggambarkan kisah sederhana tentang pertemuan dua orang yang sarat akan makna mendalam, melibatkan penantian, kenangan, dan perasaan yang tidak terucap.
Kopi dalam puisi ini tidak hanya sebatas minuman, tetapi simbol dari kesabaran dan penantian, seperti terlihat dalam metafora, “Aku dan kopiku adalah karib, kami bersabar layaknya waktu.”
Melalui kalimat ini, penulis ingin menunjukkan hubungan emosional yang kuat antara tokoh utama dengan momen yang ia jalani.
Nah langsung saja kita simak ini dia Majas Metafora dalam Puisi Kedai Kopi Pukul Sebelas Siang. Ayo kita pelajari bersama.
Kedai Kopi Pukul Sebelas Siang
Karya Maya Lestari Gf.
Pukul sebelas siang kamu datang, Senyum segan tersampir di wajahmu Kantong belanjaan tertenteng di tanganmu
“Maaf aku terlambat,” ujarmu
Aku menatap kopiku yang sudah dingin sejak dua jam lalu
“Tak apa,” jawabku
Aku dan kopiku adalah karib, kami bersabar layaknya waktu
“Aku ada urusan penting,” ujarmu
Kau menaruh tas belanjaanmu sangat hati-hati, seperti seorang ayah menaruh ananya di ayunan
Aku tahu isinya sepatu,
Mereknya tercetak di kantong belanjaanmu
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


















