Belajar Yuk, Inilah Majas Metafora Dalam Puisi Kedai Kopi Pukul Sebelas Siang

Kilas Banten
22 Jan 2025 15:43
4 menit membaca

Dan kotak sepatunya tersembul malu-malu
Aku memandang kopiku
Dua jam aku dan kopiku menunggu
Tak apa,
Aku dan kopiku adalah karib, kami bersabar layaknya waktu

Kau bertanya kenapa aku ingin bertemu
Benakku melayang ke masa lalu
Kau dan aku sama-sama bahagia bermain sepanjang waktu
Kau tak pernah bertanya kenapa aku memanggilmu

Aku pun tak pernah bertanya kenapa kau ingin bertemu Saat itu, kau tahu,
Hatiku serupa baling-baling
Ikut ke mana pun kau pergi.
Tapi kini baling-balingku mungkin sudah rusak

Tak bisa berputar ke arah anginmu berkesiur
Anginmu pun mungkin sudah berubah arah
Aku tidak mengenali lagi

Kau menunggu aku berbicara
Aku menunggu kau berkata-kata
Kopiku menunggu segala hal yang sia-sia

Kau tahu,
Aku dan kopiku seperti waktu
Bersabar menunggu apa pun berlalu

Baca Juga  Perusahaan RUPA-RUPA Adalah Perusahaan Manufaktur yang Bergerak di Bidang Produksi Peralatan Elektronik

Majas metafora dalam puisi kedai kopi pukul sebelas siang

Jawaban

Majas metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal tanpa menggunakan kata-kata pembanding secara langsung, seperti “seperti” atau “bagai”.

Dalam puisi “Kedai Kopi Pukul Sebelas Siang” karya Maya Lestari Gf., penggunaan metafora menjadi salah satu elemen yang memperkuat makna dan emosi dalam setiap baitnya.

Berikut adalah beberapa contoh majas metafora yang terdapat dalam puisi ini:

1. “Aku dan kopiku adalah karib, kami bersabar layaknya waktu.”

Dalam kalimat ini, hubungan antara tokoh utama dengan kopi diibaratkan seperti sahabat atau karib yang memiliki kesabaran seperti waktu.

Metafora ini memperlihatkan kesetiaan dan ketegaran, meskipun waktu terus berlalu.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *