Namun, tantangan ISNU saat ini tidak ringan. Ali menilai, organisasi sarjana NU harus mampu beradaptasi dengan dinamika zaman. Disrupsi terjadi di berbagai sektor. Perubahan sosial berlangsung cepat dan sering kali tidak terduga.
Ia juga menyoroti persoalan otoritas keagamaan di ruang publik. Menurutnya, figur keagamaan instan yang populer di media sosial kerap lebih menonjol dibandingkan intelektual dengan kedalaman ilmu dan tradisi akademik yang kuat.
“Di ruang publik, otoritas keagamaan sering kalah oleh kemasan. Padahal, intelektual ISNU memiliki kompetensi keilmuan yang jauh lebih komprehensif,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Hasil penelitian tersebut menegaskan, ISNU tidak cukup berfungsi sebagai forum silaturahmi sarjana NU. Organisasi ini didorong tampil sebagai aktor transformasi sosial. Peran itu diwujudkan melalui riset yang aplikatif, advokasi kebijakan publik, serta penguatan kapasitas masyarakat dengan pendekatan solutif.
“ISNU harus berani mengambil peran sebagai think tank, motor advokasi kebijakan, dan pendamping masyarakat dalam menyelesaikan persoalan sosial,” kata Ali.
Tim peneliti merekomendasikan sejumlah langkah strategis. Di antaranya penguatan infrastruktur organisasi, pengembangan fungsi riset dan advokasi, kolaborasi lintas sektor dan generasi, serta internasionalisasi kepakaran ISNU.
Kendati demikian, Sekretaris Umum PP ISNU, H Wardi Taufik, menyebut internasionalisasi sebagai tantangan besar ke depan. Ia menilai hasil riset ini membantu ISNU memetakan kekuatan dan kelemahan organisasi secara lebih objektif.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















