“Salah satu tantangan terbesar kita adalah bagaimana membawa kepakaran ISNU ke level internasional,” ujarnya.
Wardi menambahkan, ISNU memiliki sumber daya manusia yang sangat beragam. Anggotanya berasal dari kalangan akademisi, teknokrat, birokrat, profesional, hingga praktisi lintas bidang. Keragaman ini menjadi modal penting untuk memperluas kontribusi ISNU bagi pembangunan nasional.
Saat ini, ISNU telah membentuk empat asosiasi profesi, yakni bidang hukum, kedokteran, psikologi, dan engineering. Penguatan asosiasi profesi tersebut dinilai menjadi fondasi penting bagi masa depan organisasi.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Pengurus Pusat ISNU Muhammad Makmun Rasyid menekankan pentingnya kemandirian sebagai instrumen utama transformasi ISNU menuju Indonesia Emas 2045.
“Moderasi beragama di wilayah ibadah dan akidah sudah selesai. Tantangan kita sekarang berada di sektor ekonomi, politik, dan birokrasi,” kata Makmun.
Ia menyoroti pentingnya konsep moderasi ekonomi atau al-wasathiyah fil iqtishad. Konsep ini dinilai relevan untuk menjembatani kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin. Makmun mendorong pengurus ISNU di daerah menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam program konkret.

Ke depan, fokus kajian dan gerakan ISNU akan bertumpu pada isu keadilan sosial, ekonomi keumatan, dan transformasi digital. Tiga isu ini dinilai menjadi kunci sekaligus tantangan besar bagi NU dan ISNU dalam menatap Indonesia Emas 2045.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten

















