Ma’had Al-Jam’iah UIN SMH Banten, saat membuka seminar keislaman tentang penguatan turats di era digital di Gedung Pusgiwa Kampus 2, Kamis, 16 April 2026, diikuti ratusan mahasantri.
Wakil Rektor III, Dr. Dedi Sunardi, turut menguatkan pesan tersebut. Ia menekankan bahwa tradisi literasi Islam tidak boleh ditinggalkan, terutama dalam menghadapi tantangan dunia profesional yang semakin kompleks.
Ia juga mengajak mahasantri untuk memanfaatkan teknologi secara bijak, termasuk dalam mengakses literatur primer melalui platform digital seperti Maktabah Syamilah.
Namun, ia mengingatkan adanya ancaman serius dari fenomena “instanisme” yang kini marak di kalangan mahasiswa. Ketergantungan pada mesin pencari dan konten video tanpa kajian mendalam dinilai dapat melemahkan kualitas berpikir.
“Mahasantri harus tetap kritis dan mampu melakukan validasi akademik dengan membandingkan berbagai sumber,” tegasnya.
Dalam sesi utama, narasumber Abdul Muiz Ashaf mengulas kekuatan tradisi keilmuan ulama klasik yang tetap relevan hingga saat ini. Ia menjelaskan bahwa turats tidak hanya memuat ajaran agama, tetapi juga mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti sains, teknologi, sosial, hingga sastra.
Ia menilai, ulama terdahulu menyusun ilmu secara sistematis dengan dedikasi tinggi. Struktur keilmuan dalam turats dinilai memiliki kedalaman yang tidak tergantikan, meskipun saat ini akses informasi semakin cepat.
“Turats mengajarkan kedalaman berpikir, bukan sekadar kecepatan mendapatkan informasi,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Ma’had Al-Jamiah, Ahmad Muchlishon, menegaskan bahwa turats merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban intelektual. Ia mengibaratkan turats sebagai akar yang menopang kekuatan sebuah pohon ilmu.