Tanpa fondasi yang kuat, kata dia, perkembangan ilmu akan mudah goyah di tengah perubahan zaman yang cepat. Ia menekankan bahwa era digital justru harus menjadi momentum untuk memperkuat tradisi keilmuan, bukan meninggalkannya.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Mahasantri harus mampu menyinergikan nilai-nilai turats dengan kemajuan teknologi agar tetap relevan dan memiliki daya saing,” ungkapnya.
Seminar berlangsung dinamis dengan moderasi Indah Zakiah Putri. Suasana cair sejak awal berkat pantun pembuka yang menghidupkan forum. Memasuki sesi diskusi, antusiasme peserta meningkat. Mahasantri aktif mengajukan pertanyaan kritis terkait implementasi turats di tengah perkembangan teknologi modern.
Selain diskusi ilmiah, acara juga menampilkan berbagai pertunjukan seni dari mahasantri putri. Pembacaan Nadzom Adabut Thollab dan Nadzom Baiquni, pertunjukan musik gambus dan akustik, hingga pembacaan puisi turut meramaikan suasana.
Rangkaian kegiatan ditutup pada pukul 17.15 WIB dengan semangat refleksi yang kuat. Seminar ini diharapkan mampu melahirkan generasi mahasantri yang tidak hanya memahami turats sebagai warisan intelektual, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.
Penguatan karakter, peningkatan literasi, dan pemanfaatan teknologi secara bijak menjadi kunci utama dalam mencetak generasi yang tangguh, kritis, serta tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman yang autentik di tengah arus digitalisasi.***
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM

















