KILAS BANTEN – Gelombang reaksi keras datang dari kalangan ulama dan pimpinan pesantren di Provinsi Banten. Mereka menyoroti materi komedi yang dibawakan Pandji Pragiwaksono dalam serial Mens Rea. Konten tersebut dinilai melampaui batas etika dan menyentuh wilayah sensitif terkait ritual ibadah umat Islam.
Sikap tegas itu disampaikan Ketua Dewan Pembina Majelis Pesantren Salafiyah (MPS) Banten, KH Matin Syarkowi. Ia menyampaikan pernyataan tersebut di hadapan para kiai dan tokoh pesantren. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah pertemuan di Joglo Waladun Sholeh Kebun Kebangsaan, Walantaka, Kota Serang, Minggu, 11 Januari 2026.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
KH Matin menegaskan, kritik tersebut tidak disampaikan secara spontan. Ia menyebut telah menelaah seluruh materi yang disampaikan Pandji secara menyeluruh. Dari hasil penelaahan itu, ditemukan sejumlah bagian yang dinilai bermasalah dan tidak pantas disajikan ke ruang publik.
Salah satu materi yang paling disorot adalah analogi tentang persyaratan melamar pekerjaan di maskapai penerbangan. Analogi tersebut kemudian dikaitkan dengan praktik ibadah shalat. Dalam narasi komedi itu, digambarkan sosok yang rajin shalat dan tidak pernah meninggalkan ibadah. Namun, ketika terjadi turbulensi, tokoh tersebut justru digambarkan mengajak shalat safar dan menjadi bahan tertawaan.
“Digambarkan ada orang yang rajin shalat, tidak pernah bolong. Lalu saat terjadi turbulensi, justru digambarkan mengajak shalat safar dan ditertawakan. Narasi ini memberi kesan seolah orang yang taat beribadah tidak profesional,” ujar KH Matin.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





















