KILAS BANTEN – Semangat kebersamaan mewarnai kegiatan halalbihalal Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang yang digelar di Majelis Utama Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, Tengkele, Cipocok Jaya, Minggu, 12 April 2026. Kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar ajang silaturahmi. Para tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menjadikannya sebagai momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Serang, KH Saifun Nawasi, menegaskan pentingnya menjaga kebersamaan dalam tubuh organisasi.
Ia menyebut pertemuan ini sebagai langkah nyata untuk mempererat hubungan antar pengurus sekaligus memperkuat barisan NU di wilayah Banten.
“Pertemuan ini bukan sekadar kumpul biasa. Ini bagian dari upaya kita mempererat silaturahmi dan memperkuat barisan NU, khususnya di Banten,” ujar Kiai Saifun.
Ia mengaku bangga dengan semangat para pengurus di tingkat bawah. Menurutnya, pengurus mulai dari Majelis Wakil Cabang (MWCNU) hingga ranting tetap istiqomah menjalankan roda organisasi, meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.
“Saya terharu melihat semangat para kiai dan pengurus. Inilah kekuatan NU, yakni kemandirian dan keikhlasan,” katanya.
Kiai Saifun juga mengingatkan pentingnya menjaga prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah derasnya arus informasi. Ia menilai maraknya disinformasi dan fitnah di media sosial menjadi tantangan serius bagi warga NU.
Karena itu, ia menekankan agar NU tetap tampil sebagai organisasi yang sejuk, inklusif, dan menjaga tradisi keilmuan pesantren, terutama melalui kajian kitab kuning.
Ia pun mengingatkan agar pengurus di daerah tidak terjebak pada dinamika di tingkat pusat. Menurutnya, fokus utama NU harus tetap pada pelayanan umat.
“Jangan sampai energi kita habis untuk hal-hal yang menjauhkan kita dari jamaah. Kita harus fokus pada pengabdian,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Banten, KH Hafis Gunawan, menyoroti kekuatan gerakan NU di daerah yang tetap berjalan meski tanpa dukungan anggaran besar. Ia mengapresiasi kerja keras pengurus PCNU Kota Serang yang mampu menyelenggarakan kegiatan besar secara mandiri.
“Kalau kegiatan seperti ini dibiayai negara, mungkin hasilnya luar biasa. Tapi tanpa anggaran pun, PCNU Kota Serang bisa membuat acara besar. Ini patut diapresiasi,” katanya.
Kiai Hafis menambahkan, di setiap daerah terdapat “mutiara-mutiara NU” yang berperan penting dalam menggerakkan organisasi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari kiai, pejabat, hingga masyarakat umum yang turut memberikan dukungan, termasuk secara finansial.
Ia juga mencontohkan sinergi yang terbangun di wilayah Anyer, di mana pemerintah setempat turut mendukung kegiatan NU.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa gerakan NU di Banten berkembang secara luas dan mendapat kepercayaan masyarakat.
Lebih lanjut, Kiai Hafis menegaskan bahwa NU tetap berada di jalur organisasi sosial keagamaan yang independen dari politik praktis. Ia mengingatkan agar kegiatan seperti halalbihalal tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
“Ini murni gerakan organisasi. Bukan gerakan politik. NU tetap berjalan dengan kekuatan sendiri,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Kiai Hafis juga menyoroti pentingnya pemahaman yang tepat terhadap konsep Islam Nusantara. Ia menilai masih banyak pihak yang salah memahami konsep tersebut sebagai aliran baru, padahal sejatinya merupakan bentuk ekspresi Islam yang selaras dengan budaya lokal.
“Yang kita pakai, seperti sarung dan peci, itu bagian dari budaya. Yang penting nilai syariatnya tetap terjaga,” katanya.
Ia mengingatkan warga NU agar tidak mudah terpengaruh narasi negatif di media sosial.
Menurutnya, banyak penilaian terhadap NU yang hanya berdasarkan potongan informasi yang tidak utuh.
Pandangan senada disampaikan Mustasyar PCNU Kota Serang, KH Matin Syarkowi. Ia menegaskan bahwa menjadi bagian dari NU harus dilandasi ilmu dan keyakinan yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan.
“Ber-NU harus dengan ilmu dan keyakinan, bukan sekadar ikut-ikutan,” tegasnya.
Kiai Matin menjelaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah aliran baru, melainkan cara berislam yang menghargai budaya lokal tanpa meninggalkan syariat. Ia menekankan pentingnya menempatkan agama dan budaya secara proporsional.
Menurutnya, tantangan NU di era digital semakin besar. Banyak pihak menilai NU hanya dari potongan video atau pernyataan tokoh tertentu di media sosial. Padahal, NU memiliki peran besar dalam menjaga tradisi keilmuan Islam melalui pesantren dan kajian kitab kuning.
“NU itu besar. NU menjaga kitab kuning dan tradisi pesantren. Jangan menilai hanya dari satu sisi,” ujarnya.
Kiai Matin juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi pesantren di tengah perkembangan zaman. Ia menyoroti adanya kecenderungan sebagian pesantren modern yang mulai meninggalkan kajian kitab kuning.
“Kalau kitab kuning ditinggalkan, maka pemahaman keagamaan yang mendalam juga akan berkurang,” katanya.
Ia mengajak seluruh warga NU untuk terus bergerak dan tidak gentar menghadapi kritik maupun tekanan. Menurutnya, selama langkah yang diambil dilandasi ilmu dan bertujuan untuk kemaslahatan umat, maka harus terus dijalankan.
Mengutip pesan Imam Syafi’i, ia mengingatkan pentingnya mengisi waktu dengan kebaikan.
“Jika kita tidak sibuk dengan kebenaran, maka kita akan sibuk dengan kebatilan,” ujarnya.
Kegiatan halalbihalal ini menjadi simbol kuat bahwa NU di Banten tetap solid. Di tengah berbagai dinamika dan tantangan era digital, NU terus memperkuat konsolidasi organisasi, menjaga nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, serta mempertahankan tradisi pesantren sebagai fondasi utama.***

