Suasana kawasan Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, yang menyimpan jejak sejarah pelarian etnis Cina Benteng pada abad ke-18.
Seiring berjalannya waktu, permukiman tersebut berkembang menjadi komunitas yang kini dikenal sebagai masyarakat Cina Benteng. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari sejarah dan perkembangan sosial budaya di Tangerang.
Selain menyimpan kisah pelarian, nama Kedaung Wetan juga memiliki makna yang berasal dari kondisi alam di masa lalu. Burhanudin menjelaskan bahwa nama “Kedaung” diambil dari banyaknya pohon kedaung yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut. Pohon ini termasuk jenis tanaman polong-polongan yang banyak ditemukan di wilayah itu.
Sementara itu, kata “Wetan” ditambahkan untuk menunjukkan letak geografis kampung yang berada di bagian timur. Penamaan tersebut menjadi pembeda dengan wilayah lain yang juga menggunakan nama Kedaung.
Secara administratif, Kelurahan Kedaung Wetan awalnya merupakan bagian dari Kecamatan Batuceper. Namun, setelah Pemerintah Kota Tangerang melakukan pemekaran wilayah pada 2001, kawasan tersebut resmi masuk ke dalam Kecamatan Neglasari.
Tak hanya memiliki nilai historis, pohon kedaung juga menyimpan filosofi yang masih relevan hingga sekarang. Menurut Burhanudin, pohon tersebut dikenal mampu melindungi tanaman lain yang tumbuh di sekitarnya. Karakter itu kemudian dimaknai sebagai simbol kebersamaan, saling menjaga, dan hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk.
Nilai tersebut dinilai mencerminkan kehidupan masyarakat Tangerang yang dihuni berbagai latar belakang suku, budaya, dan agama. Akulturasi yang berlangsung selama ratusan tahun menjadi fondasi kuat terciptanya kehidupan sosial yang harmonis.