Intimidasi digital juga memiliki dampak psikologis yang tidak ringan. Banyak korban mengalami kecemasan, tekanan mental, hingga kehilangan rasa aman dalam kehidupan sosialnya. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya menutup akun media sosial, menarik pernyataan, atau memilih menghindari isu publik karena khawatir kembali menjadi sasaran serangan warganet. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekerasan digital dapat melukai seseorang meskipun tidak terjadi kontak fisik secara langsung.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Persoalan tersebut semakin diperparah oleh budaya viralitas di media sosial. Informasi yang belum tentu benar dapat menyebar dengan cepat dan memicu amarah publik dalam waktu singkat. Potongan video, tangkapan layar, maupun narasi sepihak sering dijadikan alat untuk menggiring opini tanpa proses klarifikasi yang utuh. Dalam situasi seperti ini, masyarakat kerap lebih mudah menghakimi daripada memahami konteks persoalan secara menyeluruh.
Karena itu, literasi digital menjadi hal yang sangat penting untuk diperkuat. Masyarakat perlu memahami bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian wajar dalam kehidupan demokrasi. Kritik tidak seharusnya dibalas dengan ancaman atau penghinaan, melainkan dengan argumentasi yang sehat dan rasional. Selain itu, platform media sosial juga harus lebih serius dalam menindak praktik perundungan, penyebaran kebencian, dan intimidasi yang merusak ruang publik digital.
Pada akhirnya, intimidasi digital adalah tantangan besar bagi masyarakat modern. Jika dibiarkan terus berkembang, maka ruang digital bukan lagi menjadi tempat bertukar gagasan, melainkan ruang ketakutan yang membatasi kebebasan masyarakat untuk berpikir dan berbicara. Demokrasi tidak selalu mati karena larangan resmi, tetapi bisa perlahan melemah ketika masyarakat memilih bungkam demi melindungi dirinya sendiri.
Penulis : Redaksi Kilas Banten
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





















