Sahid menegaskan perubahan tidak cukup hanya dilakukan melalui pergantian kepengurusan. Ia ingin terjadi perubahan pola pikir di kalangan mahasiswa agar gerakan yang dibangun lebih visioner dan memiliki arah jelas.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Perubahan bukan sekadar pergantian kepemimpinan dan struktural, melainkan pergeseran cara berpikir dari administratif menjadi strategis, dari reaktif menjadi progresif,” lanjutnya.
Dalam kepemimpinannya, Sahid juga menyoroti pentingnya konsolidasi seluruh elemen organisasi mahasiswa. Ia ingin DEMA universitas menjadi titik temu seluruh kekuatan mahasiswa, mulai dari DEMA fakultas, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), hingga komunitas gerakan sosial di kampus.
Menurut Sahid, gerakan mahasiswa tidak akan memiliki pengaruh besar jika berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, ia mengajak seluruh organisasi mahasiswa membangun kekuatan kolektif demi menciptakan perubahan yang lebih luas.
“Ketika gerakan terfragmentasi, dampaknya akan kecil. Tapi ketika disatukan dalam satu arah perubahan, ia akan menjadi gelombang gerakan yang diperhitungkan,” tegasnya.
Selain fokus membangun gerakan eksternal, Sahid juga menargetkan pembenahan internal organisasi mahasiswa. Ia menilai tata kelola organisasi harus lebih profesional agar mampu menjawab tantangan zaman dan perkembangan dunia kampus yang semakin dinamis.
Transformasi sistem kerja organisasi menjadi salah satu agenda utama kepengurusan Sahid-Fajar. Mereka juga berkomitmen membangun budaya organisasi yang inklusif serta memperkuat kualitas kader mahasiswa di lingkungan UIN SMH Banten.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya
















