Sebelumnya, KLH bersama Pemerintah Kota Tangerang Selatan menutup TPA Cipeucang pada Mei 2024. Penutupan itu disertai sanksi administratif dan perintah pembenahan. Langkah tersebut diambil setelah ditemukan sejumlah persoalan teknis dan risiko pencemaran lingkungan.
Namun, kebijakan penutupan memunculkan masalah baru. Sampah menumpuk di berbagai sudut kota. Situasi ini memaksa pemerintah membuka kembali TPA Cipeucang secara terbatas.
“Kami meminta penanganan sampah kembali dilakukan di TPA Cipeucang sambil dilakukan penataan,” ujar Hanif.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
KLH dan Pemkot Tangsel sepakat memaksimalkan fungsi material recovery facility (MRF) di setiap unit TPA. Upaya ini ditujukan untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke landfill. Meski demikian, kapasitas TPA tetap menjadi kendala utama.
Dalam kondisi darurat saat ini, TPA Cipeucang hanya mampu menampung sekitar 400 ton sampah per hari. Padahal, produksi sampah di Tangerang Selatan mencapai sekitar 1.100 ton per hari. Artinya, lebih dari 600 ton sampah harus dicarikan solusi penanganan di luar kapasitas TPA setiap harinya.
Hanif menyebut situasi tersebut sebagai kondisi kedaruratan. Ia menilai perlu ada kerja sama lintas daerah. Menteri Lingkungan Hidup mengaku akan berkomunikasi langsung dengan Gubernur Banten Andra Soni dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Langkah itu menyusul surat resmi Wali Kota Tangsel yang meminta bantuan penanganan darurat.
Sebagai opsi sementara, Hanif telah meninjau TPA Galuga dan TPA Lulut Nambo di Kabupaten Bogor. Alternatif pembuangan ke wilayah lain juga tengah dikaji. “Saya akan meminta tolong untuk kedaruratan ini sampai penanganan substansinya dilakukan, sementara akan diarahkan ke Serang,” kata Hanif.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















