KILAS BANTEN – SMP PGRI 2 Ciledug terus memperkuat transformasi digital di sektor pendidikan melalui penerapan Computer Based Test (CBT) atau ujian berbasis komputer. Program ini telah berjalan secara konsisten sejak 2017 dan digunakan dalam pelaksanaan asesmen tengah semester maupun akhir semester.
Kebijakan tersebut menjadi bukti komitmen sekolah dalam menghadirkan sistem evaluasi pembelajaran yang modern, efisien, dan sesuai dengan perkembangan teknologi.
Melalui CBT, proses ujian tidak lagi bergantung pada lembar soal maupun kertas jawaban sehingga pelaksanaannya menjadi lebih praktis sekaligus ramah lingkungan.
Wakil Kepala SMP PGRI 2 Ciledug, Nini Yulianti, mengatakan penggunaan CBT kini telah menjadi bagian dari budaya belajar di lingkungan sekolah. Guru dan siswa pun sudah terbiasa memanfaatkan teknologi dalam proses evaluasi pembelajaran.
“Kami sudah tidak asing lagi menggunakan ujian berbasis CBT karena sudah bertahun-tahun konsisten memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada. Apalagi semakin ke sini semakin mudah dijangkau. Ujian CBT bisa dilakukan siswa menggunakan perangkat laptop, tablet, bahkan smartphone sendiri, sehingga pelaksanaannya jadi lebih praktis dan efisien pastinya,” ujar Nini, Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurutnya, fleksibilitas perangkat menjadi salah satu keunggulan utama sistem tersebut. Peserta didik dapat mengikuti ujian menggunakan laptop, tablet, maupun telepon pintar milik pribadi tanpa mengurangi kualitas penilaian yang dilakukan sekolah.
Selain mempermudah pelaksanaan ujian, penerapan CBT juga membantu mengurangi penggunaan kertas secara signifikan. Langkah ini mendukung upaya digitalisasi pendidikan sekaligus mendorong terciptanya proses belajar yang lebih efektif.
Respons positif juga datang dari para siswa. Siswi kelas IX SMP PGRI 2 Ciledug, Aulia Cahya Ramadhani, mengaku lebih nyaman mengikuti ujian digital dibandingkan metode konvensional.
Ia menilai sistem CBT mampu menampilkan hasil ujian secara cepat sehingga peserta didik dapat segera mengetahui capaian belajarnya. Menurutnya, fitur yang tersedia juga membuat peluang mencontek menjadi lebih kecil sehingga siswa terdorong mengerjakan soal secara mandiri.
“Saya merasa terbantu dengan penerapan ujian menggunakan CBT karena banyak sekali keunggulannya dibandingkan ujian tulis biasa karena sistemnya bisa realtime menampilkan hasil ujiannya. Pelaksanaannya juga sangat efektif bahkan sistemnya dirancang untuk kita sulit mencontek, jadi semakin terbiasa menjalani ujian dengan jujur juga,” kata Aulia.
Ia menambahkan, dirinya bersama teman-teman telah terbiasa menggunakan berbagai platform digital dalam kegiatan belajar. Salah satunya adalah aplikasi Quizizz yang kerap dimanfaatkan guru untuk kegiatan evaluasi di kelas.
“Selama pelaksanaannya tidak ada kesulitan sama sekali ya, apalagi saya bersama teman-teman di sini sudah sangat terbiasa menjalani proses pembelajaran menggunakan teknologi seperti Quizizz kalau ulangan dan sebagainya. Semoga bisa terus dikembangkan lebih baik lagi serta bisa menginspirasi sekolah-sekolah lain menggunakan sistem serupa,” ujarnya.
Penerapan CBT menjadi salah satu bagian dari pengembangan ekosistem pembelajaran berbasis teknologi di SMP PGRI 2 Ciledug. Sekolah juga menghadirkan berbagai program pendukung, mulai dari ekstrakurikuler robotik, pembelajaran coding, desain digital, hingga aktivitas berbasis teknologi lainnya.
Melalui berbagai inovasi tersebut, SMP PGRI 2 Ciledug berharap dapat membekali peserta didik dengan kemampuan digital yang relevan. Bekal itu dinilai penting agar siswa siap menghadapi tantangan pendidikan, perkembangan teknologi, dan kebutuhan dunia kerja pada masa mendatang.***






