Stunting di Kota Tangerang Bertahan 5,4 Persen, Pemkot Gencarkan Perang Total dari Remaja hingga Ibu Hamil

Kilas Banten
11 Jun 2026 15:30
3 menit membaca

 

Selain itu, pemeriksaan kesehatan juga diperkuat bagi calon pengantin. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan pasangan dalam kondisi sehat sebelum menikah. Setelah itu, pemantauan dilanjutkan pada ibu hamil melalui pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan.

 

“Fokus kami adalah mencegah agar tidak ada lagi anak stunting baru. Intervensi sudah dimulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga balita,” jelasnya.

 

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan dinamika penurunan stunting di Kota Tangerang dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, angka stunting tercatat 19,1 persen. Tahun berikutnya turun menjadi 16,4 persen.

Baca Juga  Turun Langsung ke Permukiman, Wali Kota Sachrudin Gaspol Jaga Lingkungan Lewat CFD dan Armada Sampah Baru

 

Meski sempat terhenti pada 2020 akibat pandemi, tren penurunan kembali berlanjut hingga 2022 yang mencapai 11,8 persen. Namun, pada 2023 angka tersebut sempat naik menjadi 17,6 persen. Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kembali program intervensi.

 

Pada 2024, angka stunting kembali turun signifikan menjadi 11,2 persen berdasarkan SSGI. Sementara itu, data 2025 tidak tersedia karena survei tidak dilakukan secara nasional.

 

Dr. Dini menegaskan bahwa keberhasilan penurunan stunting tidak hanya ditentukan oleh sektor kesehatan. Faktor lain seperti sanitasi, ekonomi keluarga, pola asuh, pendidikan, dan akses pangan bergizi juga berperan besar.

 

Ia menyebut sekitar 70 persen intervensi berasal dari sektor di luar kesehatan. Karena itu, kolaborasi lintas perangkat daerah, kader posyandu, PKK, dunia usaha, hingga masyarakat menjadi kunci utama.