Bangunan yang dirancang dengan prinsip efisiensi energi dinilai dapat menekan penggunaan listrik, mengurangi biaya operasional, serta meningkatkan kenyamanan penghuni bangunan. Selain itu, langkah tersebut juga dapat mengurangi beban sistem kelistrikan kota yang terus meningkat akibat pertumbuhan pembangunan.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Pemkot Tangsel juga menilai penerapan bangunan rendah emisi akan berdampak pada peningkatan kualitas udara perkotaan dan memperkuat ketahanan kota menghadapi dampak perubahan iklim.
Dalam proyeksi yang dipaparkan saat peluncuran, Tangerang Selatan berpotensi mengurangi emisi karbon hingga 4,1 juta metrik ton CO2 sampai tahun 2040 jika pedoman teknis dijalankan secara konsisten.
Tidak hanya itu, penghematan energi yang dihasilkan diperkirakan mampu menekan pengeluaran hingga hampir Rp8 triliun. Anggaran tersebut nantinya dapat dialihkan untuk mendukung sektor prioritas lain seperti pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2020 menunjukkan sektor bangunan gedung mengonsumsi sekitar 60 persen listrik nasional. Sektor ini juga menyumbang hampir sepertiga emisi energi nasional.
Besarnya konsumsi energi tersebut membuat pemerintah daerah mulai mempercepat penerapan konsep bangunan hijau dan hemat energi. Pasalnya, bangunan yang dibangun tanpa memperhatikan efisiensi energi berpotensi menghasilkan emisi tinggi selama puluhan tahun.
Sebaliknya, konsep bangunan rendah emisi dianggap lebih efisien karena mampu mengurangi biaya operasional sekaligus menekan emisi gas rumah kaca dalam jangka panjang.
Penulis : Wahyu
Editor : Taufik
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















