Banten

Embrio Hari Santri Nasional Ternyata Berasal dari Banten, Piagam Al-Fathaniyah Jadi Tonggak Sejarah

×

Embrio Hari Santri Nasional Ternyata Berasal dari Banten, Piagam Al-Fathaniyah Jadi Tonggak Sejarah

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum Majelis Pesantren Salafiyah (MPS) Provinsi Banten KH Matin Syarkowi menjelaskan sejarah lahirnya embrio Hari Santri Nasional yang disebut berawal dari Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah di Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, Kota Serang.
Ketua Umum Majelis Pesantren Salafiyah (MPS) Provinsi Banten KH Matin Syarkowi menjelaskan sejarah lahirnya embrio Hari Santri Nasional yang disebut berawal dari Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah di Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, Kota Serang.

KILAS BANTEN – Peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober disebut memiliki jejak sejarah yang bermula dari Provinsi Banten. Gagasan yang kemudian berkembang menjadi kebijakan nasional itu diyakini lahir melalui Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah yang disusun di Pondok Pesantren Al-Fathaniyah Tengkele, Kota Serang.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Umum Majelis Pesantren Salafiyah (MPS) Provinsi Banten, KH Matin Syarkowi.

Ia mengungkapkan hal itu saat menghadiri peringatan Hari Santri Nasional 2024 di Majelis Pusat Asy-Syarqowi Pondok Pesantren Al-Fathaniyah pada 22 Oktober 2024 silam.

KH Matin menjelaskan bahwa gagasan mengenai Hari Santri mulai muncul pada 2014, ketika Joko Widodo masih berstatus sebagai calon presiden.

Saat itu, Jusuf Kalla datang sebagai utusan untuk menjalin komunikasi dengan kalangan pesantren sekaligus meminta dukungan menjelang Pemilihan Presiden.

Menurut KH Matin, para ulama tidak memberikan dukungan tanpa syarat. Mereka tidak meminta imbalan berupa materi maupun janji politik. Sebaliknya, mereka menginginkan komitmen nyata dari negara agar pesantren memperoleh perhatian melalui kebijakan yang berpihak kepada pendidikan Islam.

“Dukungan diberikan dengan syarat ada komitmen yang jelas untuk pesantren, bukan sekadar janji,” ujar KH Matin, Rabu, 21 Oktober 2026.

Piagam Al-Fathaniyah Jadi Dasar Perjuangan Pesantren

Dari pertemuan tersebut lahirlah Piagam Perjuangan Al Fathaniyah. Dokumen itu ditandatangani oleh sejumlah ulama dan kiai sepuh dari berbagai daerah di Banten, mulai dari Serang, Pelamunan, Pandeglang hingga Tangerang.

Piagam tersebut memuat komitmen agar negara tidak mengabaikan keberadaan pesantren dalam pembangunan nasional.

Menurut KH Matin, pesantren telah memberikan kontribusi besar terhadap perjalanan bangsa sehingga layak memperoleh dukungan melalui kebijakan yang berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa pesantren bukan hanya menjadi mitra pemerintah dalam bidang pendidikan. Lebih dari itu, pesantren merupakan bagian penting dari sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurutnya, banyak ulama dan santri yang berjuang bahkan gugur dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun, jasa mereka sering kali tidak banyak terdokumentasikan karena para kiai memilih tetap rendah hati dan tidak menonjolkan perannya.

Baca Juga  Politik Kebangsaan dan Masa Depan Banten: Menjaga Negara, Mengoreksi Kekuasaan

Penetapan Hari Santri Lewat Komunikasi PBNU dan Pemerintah

KH Matin menjelaskan bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri merupakan hasil komunikasi antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan pemerintah. Meski demikian, ia menilai semangat yang melatarbelakangi kebijakan tersebut telah lebih dahulu tertuang dalam Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah.

Menurutnya, piagam itu menjadi salah satu tonggak penting yang memperkuat perjuangan agar negara memberikan perhatian lebih besar terhadap keberlangsungan pendidikan pesantren di Indonesia.

Ia juga menyoroti kondisi sejumlah pesantren yang masih bergantung pada proposal bantuan kepada pemerintah daerah.

Menurutnya, pesantren seharusnya dapat tumbuh lebih mandiri, sedangkan pemerintah fokus menghadirkan regulasi, kebijakan, serta program yang memperkuat ekosistem pendidikan pesantren.

Peran Banten Dinilai Belum Banyak Diketahui

KH Matin mengaku prihatin karena sejarah keterlibatan Banten dalam lahirnya Hari Santri Nasional belum banyak diketahui masyarakat. Padahal, menurutnya, embrio gagasan tersebut lahir melalui Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah yang disusun di Kota Serang.

Ia mengaku bangga karena Banten memiliki kontribusi penting dalam sejarah nasional. Namun, ia juga menyayangkan masih banyak tokoh dan peristiwa besar dari daerah tersebut yang belum mendapatkan perhatian luas dari publik.

Dalam kesempatan yang sama, KH Matin menghubungkan Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah dengan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama yang diprakarsai KH Hasyim Asy’ari.

Menurutnya, kedua peristiwa itu memiliki semangat yang sama, yaitu memperkuat posisi ulama dan pesantren dalam menjaga keutuhan bangsa.

Ia juga menyinggung kiprah ulama besar asal Banten, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani. Tokoh tersebut dikenal memiliki pengaruh besar dalam perkembangan keilmuan Islam serta disebut ikut membangun semangat perjuangan bangsa melalui jaringan ulama di Makkah pada masa penjajahan.

KH Matin berharap masyarakat semakin memahami bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama. Pesantren juga memiliki peran strategis dalam perjalanan sejarah Indonesia. Karena itu, nilai perjuangan ulama dan santri perlu terus dijaga, dikenalkan kepada generasi muda, serta diwariskan sebagai fondasi untuk memperkuat persatuan dan keutuhan bangsa.***