Kelangkaan Plastik dan Respon Ecoteologi

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kelangkaan Plastik dan Respon Ecoteologi, opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, ditulis oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

i

Kelangkaan Plastik dan Respon Ecoteologi, opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, ditulis oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

KILAS BANTEN – Plastik mulai langka. Gangguan pasokan, kenaikan harga bahan baku, dan tekanan industri membuat benda yang dulu mudah didapat ini kini menjadi barang berharga. Tidak lagi tersedia dalam jumlah yang melimpah, plastik kini menjadi simbol keterbatasan sumber daya yang tak terlihat oleh mata sehari-hari.

 

Respons masyarakat terhadap kelangkaan ini beragam. Ada yang menanggapi dengan panik karena terbiasa mengandalkan kemudahan plastik, dan ada pula yang melihat sisi positifnya. Tanggapan positif muncul karena limbah plastik tetap menumpuk dan menjadi ancaman serius bagi daratan maupun lautan.

ADVERTISEMENT

, ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Menurut United Nations Environment Programme, produksi plastik global tetap mencapai ratusan juta ton per tahun. Namun distribusinya timpang: sebagian wilayah melimpah, sementara ekosistem alami menanggung beban limbah yang tidak terurai. Ketimpangan ini mencerminkan paradoks modern: kelangkaan fisik berbanding terbalik dengan kelimpahan kerusakan lingkungan.

Baca Juga  UIN Banten Resmi Jadi Markas KKN Nusantara 2026, Ribuan Mahasiswa Siap Turun Tangan Bangun Negeri

 

Kajian National Geographic bahkan menunjukkan, seluruh plastik yang pernah diproduksi bisa membungkus bumi berlapis-lapis. Gambaran ini dramatis, mengingatkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kelangkaan fisik, melainkan pola konsumsi yang tidak berkelanjutan.

Kelangkaan plastik membuka ruang refleksi moral. Al-Qur’an mengingatkan: “Adapun buih (yang tidak bermanfaat) maka lenyap, sedang apa yang bermanfaat bagi manusia tetap tinggal di bumi” (QS. Al-Kahfi: 17). Ayat ini menjadi dasar ecoteologi, mengajarkan manusia untuk membedakan apa yang benar-benar berguna dan tidak merusak alam.

Penulis : Redaksi Kilas Banten

Editor : Redaksi Kilas Banten

Follow WhatsApp Channel www.kilasbanten.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Alarm Hukum di Balik Aset Tak Bersertifikat: Menguji Akuntabilitas Pemerintah Provinsi Banten
Kelangkaan Plastik dan Respon Ecoteologi, opini ini ditulis oleh M. Ishom el Saha, ditulis oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Berita Terkait

-

Kelangkaan Plastik dan Respon Ecoteologi

-

Alarm Hukum di Balik Aset Tak Bersertifikat: Menguji Akuntabilitas Pemerintah Provinsi Banten

Berita Terbaru