KILAS BANTEN – Plastik mulai langka. Gangguan pasokan, kenaikan harga bahan baku, dan tekanan industri membuat benda yang dulu mudah didapat ini kini menjadi barang berharga. Tidak lagi tersedia dalam jumlah yang melimpah, plastik kini menjadi simbol keterbatasan sumber daya yang tak terlihat oleh mata sehari-hari.
Respons masyarakat terhadap kelangkaan ini beragam. Ada yang menanggapi dengan panik karena terbiasa mengandalkan kemudahan plastik, dan ada pula yang melihat sisi positifnya. Tanggapan positif muncul karena limbah plastik tetap menumpuk dan menjadi ancaman serius bagi daratan maupun lautan.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut United Nations Environment Programme, produksi plastik global tetap mencapai ratusan juta ton per tahun. Namun distribusinya timpang: sebagian wilayah melimpah, sementara ekosistem alami menanggung beban limbah yang tidak terurai. Ketimpangan ini mencerminkan paradoks modern: kelangkaan fisik berbanding terbalik dengan kelimpahan kerusakan lingkungan.
Kajian National Geographic bahkan menunjukkan, seluruh plastik yang pernah diproduksi bisa membungkus bumi berlapis-lapis. Gambaran ini dramatis, mengingatkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kelangkaan fisik, melainkan pola konsumsi yang tidak berkelanjutan.
Kelangkaan plastik membuka ruang refleksi moral. Al-Qur’an mengingatkan: “Adapun buih (yang tidak bermanfaat) maka lenyap, sedang apa yang bermanfaat bagi manusia tetap tinggal di bumi” (QS. Al-Kahfi: 17). Ayat ini menjadi dasar ecoteologi, mengajarkan manusia untuk membedakan apa yang benar-benar berguna dan tidak merusak alam.
Penulis : Redaksi Kilas Banten
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















