KILAS BANTEN – Provinsi Banten kembali mencatat perkembangan positif di sektor investasi. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (ETKI) Banten berhasil membukukan investasi sekitar Rp1,9 triliun hanya dalam tahun pertama operasionalnya. Capaian tersebut bahkan dinilai melampaui target awal pengembangan kawasan.
Keberhasilan itu terungkap saat Gubernur Banten Andra Soni meninjau langsung KEK ETKI yang berada di kawasan BSD, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang. Kunjungan dilakukan untuk melihat perkembangan investasi sekaligus aktivitas berbagai tenant yang telah menjalankan usahanya di kawasan tersebut.
Andra Soni mengatakan Banten saat ini memiliki dua Kawasan Ekonomi Khusus yang ditetapkan pemerintah pusat. Selain KEK Tanjung Lesung yang fokus pada sektor pariwisata, kini hadir KEK ETKI yang diarahkan menjadi pusat pengembangan pendidikan, layanan kesehatan, teknologi digital, hingga ekonomi kreatif.
“Alhamdulillah, hari ini saya meninjau langsung progres salah satu Kawasan Ekonomi Khusus yang ada di Banten, yakni di kawasan BSD,” kata Andra Soni, Rabu, 16 September 2026.
Menurut laporan pengelola kawasan, KEK ETKI ditargetkan mampu menarik investasi hingga Rp18 triliun dalam jangka waktu 20 tahun. Namun, pada tahun pertama operasional, realisasi investasi sudah mencapai sekitar Rp1,9 triliun. Angka tersebut menunjukkan tingginya minat investor terhadap kawasan yang diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Banten.
Dampak investasi juga mulai dirasakan melalui pembukaan lapangan kerja. Hingga saat ini, sebanyak 1.773 tenaga kerja telah terserap di berbagai perusahaan dan sektor usaha yang mulai beroperasi di kawasan tersebut.
Pemerintah Provinsi Banten optimistis nilai investasi akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Dalam lima tahun ke depan, investasi di KEK ETKI diperkirakan mendekati Rp6 triliun.
Andra menegaskan pertumbuhan investasi tersebut diharapkan mampu memperkuat perekonomian daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Harapan kita, keberadaan KEK ini mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten. Dengan ekonomi yang terus tumbuh, dampaknya tentu akan dirasakan langsung oleh masyarakat Banten,” ujarnya.
Pemprov Banten juga memastikan akan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan KEK ETKI. Dukungan tersebut semakin dibutuhkan karena pihak pengelola tengah mengajukan perluasan kawasan seiring meningkatnya ketertarikan investor untuk berinvestasi.
Menurut Andra, kawasan ini akan berkembang sebagai pusat investasi berbasis teknologi modern. Salah satu proyek strategis yang dipersiapkan ialah pembangunan data center yang memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi digital nasional.
“Nantinya akan banyak teknologi yang masuk, salah satunya data center. Kehadiran infrastruktur ini sangat diperlukan oleh pemerintah guna mendukung ekosistem digital di Indonesia,” ungkapnya.
Selain membangun infrastruktur, pemerintah juga menaruh perhatian besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemprov Banten telah menjalin kerja sama dengan pengelola KEK ETKI untuk menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Salah satu bentuk kolaborasi tersebut ialah pemberian beasiswa pendidikan vokasi kepada 20 pelajar asal Banten di Fuji Academy. Program ini dirancang agar peserta memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri sekaligus membuka peluang bekerja di Jepang.
“Kami telah membangun kerja sama dengan pihak pengelola. Mereka memfasilitasi anak-anak Banten agar memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang berkualitas di sini,” kata Andra.
Di sisi lain, Kepala Divisi Operasional Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK ETKI Banten, Lindawaty, menjelaskan kawasan tersebut resmi ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2024 dengan luas sekitar 59,68 hektare.
Ia menyebut pembangunan kawasan telah mencapai sekitar 50 persen, terutama di bagian timur. Sementara itu, pengembangan area barat masih terus berlangsung untuk mendukung ekspansi investasi pada masa mendatang.
Saat ini terdapat 29 tenant yang sudah beroperasi maupun membangun fasilitas di dalam kawasan. Pengelola menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi sedikitnya 50 tenant dalam lima tahun mendatang.
Lindawaty menambahkan sektor kesehatan menjadi daya tarik utama investasi di KEK ETKI. Berbagai fasilitas yang telah hadir meliputi klinik bayi tabung (IVF), klinik kecantikan dan estetika, klinik onkologi, hingga laboratorium genetik.
Pengelola juga memperkuat sinergi dengan Pemerintah Provinsi Banten melalui promosi investasi dan program business matching. Langkah tersebut bertujuan mempertemukan pelaku usaha lokal dengan investor maupun tenant yang telah beroperasi sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas. Dengan perkembangan investasi yang terus meningkat, KEK ETKI diharapkan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Banten sekaligus memperkuat posisi provinsi ini sebagai pusat investasi, teknologi, kesehatan, dan ekonomi digital di Indonesia.***






