Rektor UIN SMH Banten Prof Muhammad Ishom saat menghadiri rapat koordinasi KKN Nusantara 2026 bersama perwakilan PTKIN se-Indonesia di Serang, Banten, Senin 11 Mei 2026
Mahasiswa peserta KKN nantinya akan ditempatkan di sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak, termasuk kawasan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Selama menjalani pengabdian, mahasiswa tidak hanya fokus pada program sosial masyarakat, tetapi juga mempelajari pola hidup, budaya, hingga sistem sosial masyarakat adat.
Menurut Prof Ishom, kawasan Baduy dipilih karena memiliki nilai pembelajaran yang kuat. Kawasan tersebut dinilai cocok menjadi laboratorium sosial berbasis ekoteologi atau konsep hubungan manusia dengan alam.
Masyarakat Baduy dikenal memiliki filosofi hidup sederhana dan sangat menjaga kelestarian lingkungan. Nilai tersebut dinilai penting untuk dipelajari mahasiswa di tengah meningkatnya persoalan lingkungan dan kerusakan alam di berbagai daerah.
“Orang Baduy punya prinsip menjaga gunung dan sawah agar tidak dirusak. Nilai-nilai itu penting dipelajari mahasiswa,” katanya.
Ia menambahkan masyarakat Baduy juga memiliki berbagai aturan adat dan pantangan yang masih dijaga ketat hingga saat ini. Karena itu, mahasiswa akan mendapat pembekalan khusus sebelum diterjunkan ke lokasi KKN.
Pembekalan dilakukan agar peserta memahami budaya lokal dan mampu beradaptasi dengan masyarakat setempat tanpa menimbulkan persoalan sosial maupun budaya selama pelaksanaan pengabdian.
Selain menjadi sarana pengabdian masyarakat, KKN Nusantara 2026 juga diharapkan menjadi media promosi budaya dan potensi daerah Banten di tingkat nasional.
Prof Ishom menyebut Banten memiliki sejarah panjang sebagai salah satu wilayah maju di Nusantara sejak masa Kesultanan Banten. Pada era Sultan Ageng Tirtayasa, Banten bahkan dikenal sebagai pusat perdagangan dan lumbung pangan penting di kawasan Asia Tenggara.