Program ini menyasar pemuda berusia 16 hingga 25 tahun. Kelompok ini dinilai memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan masyarakat. Melalui pendekatan partisipatif, mereka dilatih untuk menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan lingkungan inklusif dan toleran.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Rangkaian kegiatan PeaceLab digelar secara hibrida. Metode ini memungkinkan jangkauan peserta lebih luas. Kegiatan dimulai dengan lokakarya tatap muka di Magetan pada 31 Januari 2026. Dalam sesi tersebut, peserta mengikuti diskusi interaktif bersama para ahli di bidang budaya, sejarah, dan keterlibatan sipil.
Peserta juga dibagi dalam kelompok untuk bertukar gagasan. Mereka mengembangkan pemahaman praktis tentang bagaimana budaya dan sejarah dapat menjadi alat membangun perdamaian. Interaksi ini menjadi ruang belajar yang dinamis dan aplikatif.
Sebagai kelanjutan, PeaceLab mengadakan talk show daring pada bulan berikutnya. Kegiatan ini melibatkan audiens yang lebih luas. Sejumlah ahli, alumni, dan tokoh masyarakat hadir sebagai pembicara. Diskusi berlangsung aktif dan membahas strategi konkret dalam mencegah konflik sosial berbasis pendekatan budaya.
Forum daring ini juga membuka ruang dialog publik. Peserta dan audiens dapat bertukar pandangan secara terbuka. Hal ini memperkuat ketahanan komunitas melalui komunikasi yang inklusif dan konstruktif.
Salah satu peserta mengaku mendapatkan sudut pandang baru setelah mengikuti program ini. “Saya jadi lebih paham bahwa budaya bukan sekadar warisan, tapi juga alat untuk menyatukan masyarakat,” ujarnya pada Kamis, 2 April 2026.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















