“Materi pelatihan harus sinkron dengan kebutuhan riil di pabrik maupun perkantoran. Kami tidak ingin ada jarak antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan perusahaan,” katanya.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Karena itu, Disnaker Kota Tangerang meminta seluruh LPK rutin memperbarui materi pembelajaran, metode pelatihan, hingga fasilitas pendukung agar kualitas lulusan tetap relevan dengan perkembangan dunia industri.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya tawar tenaga kerja lokal di tengah persaingan kerja yang semakin kompetitif. Terlebih, Kota Tangerang dikenal sebagai salah satu kawasan penyangga industri dan bisnis di wilayah Jabodetabek.
Kondisi itu membuat kebutuhan tenaga kerja terampil terus meningkat setiap tahun. Perusahaan kini tidak hanya mencari pekerja dengan ijazah formal, tetapi juga tenaga kerja yang memiliki kompetensi spesifik dan siap terjun ke lapangan.
Pemkot Tangerang melihat sinkronisasi antara lembaga pelatihan dan kebutuhan industri menjadi kunci dalam menekan angka pengangguran. Dengan pelatihan yang tepat sasaran, peluang lulusan untuk terserap dunia kerja akan semakin besar.
Selain itu, pembinaan terhadap LPK juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam membangun SDM unggul yang mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional.
Disnaker berharap LPK swasta dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam mencetak tenaga kerja profesional, disiplin, dan memiliki sertifikasi kompetensi yang diakui perusahaan.
Pemerintah juga optimistis penguatan standar pelatihan akan memberikan dampak positif terhadap kualitas tenaga kerja di Kota Tangerang. Lulusan LPK diharapkan tidak hanya siap kerja, tetapi juga memiliki nilai tambah yang mampu menarik minat perusahaan.
Penulis : Wahyu
Editor : Taufik
Sumber Berita: KILASBANTEN.COM
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















