“Kita memohon pertolongan Allah di tengah banyaknya bencana. Kita berdoa bersama agar bangsa ini diberikan keselamatan,” katanya.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Selain doa bersama, PWNU Banten memanfaatkan momentum Harlah NU untuk menyampaikan agenda organisasi ke depan. Ahmad Nuri menegaskan pengajian rutin dan kaderisasi tetap menjadi prioritas utama.
“Kegiatan pengajian terus berjalan. Kaderisasi juga terus kami lakukan, baik melalui PMKNU maupun PDPKPNU. Kami juga menyisir kiai-kiai di kampung-kampung agar menjadi kekuatan besar jamaah dan jam’iyyah,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan basis kiai dan jamaah di tingkat akar rumput menjadi modal penting bagi NU agar tetap solid dan relevan dalam menjawab kebutuhan umat dan bangsa.
Dalam kesempatan yang sama, Tausiyah Kebangsaan disampaikan oleh KH Imaduddin Utsman Al Bantani. Ia mengulas peran para ulama pendiri NU dalam menyatukan umat Islam di Nusantara. Menurutnya, tokoh-tokoh NU berhasil mengonsolidasikan kekuatan umat yang sebelumnya tersebar.
“Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah Bisri Sansuri, dan para ulama lainnya menyatukan gerak dan suara. Mereka mengikat Islam yang telah dibawa oleh para Wali Songo,” tutur KH Imaduddin.
Ia juga memaparkan temuan sejarah terkait masuknya Islam ke Nusantara. KH Imaduddin menyebut Islam telah hadir sejak tahun 70 Hijriah, dibuktikan dengan temuan koin di Sumatera dari masa Bani Umayyah.
Meski demikian, ia menegaskan proses Islamisasi berlangsung secara bertahap. Mengutip pandangan Profesor Agus Sunyoto, ia menyebut masyarakat Nusantara secara luas memeluk Islam pada abad ke-15, pada masa Wali Songo seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati.
Penulis : Dayat
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















