Perubahan ini menunjukkan pergeseran struktur sosial yang sangat pesat, sesuai dengan pandangan Selo bahwa perubahan sosial terjadi ketika lembaga sosial mengalami pergeseran fungsi.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu konsep penting yang sering dikaitkan dengan analisis Selo adalah cultural lag.
Meskipun istilah ini pertama kali digunakan oleh William F. Ogburn, Selo menggunakan konsep ini untuk memahami masyarakat Indonesia pasca-kemerdekaan, ketika modernisasi berjalan lebih cepat dibandingkan kesiapan masyarakat.
Fenomena cultural lag bisa terlihat dalam dinamika tenaga kerja di Banten.
Meskipun Banten memiliki sejumlah daerah industri besar di Cilegon, Serang, Tangerang, dan Tangerang Selatan, banyak tenaga kerja lokal tidak bisa beradaptasi.
Banyak masyarakat lokal terutama dari Pandeglang dan Lebak tidak memiliki sertifikasi, keterampilan, atau kemampuan literasi digital yang dibutuhkan di industri modern.
Akibatnya, banyak pekerja lokal tidak bisa ditempatkan di sektor industri. Sebaliknya, tenaga kerja dari daerah lain lebih berpengaruh dalam industri.
Ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan dan pelatihan kerja belum bisa beradaptasi cepat dengan kebutuhan pasar.
Dalam pandangan Selo, ini adalah bentuk ketimpangan antara perubahan ekonomi dengan kesiapan lembaga pendidikan.
Digitalisasi juga menjadi sumber perubahan sosial yang sangat kuat di Banten.
Data dari Disperindag Banten 2024 menunjukkan lebih dari 320 ribu usaha mikro kecil menengah (UMKM) sudah terdaftar di marketplace nasional.
Penulis : Lela
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya

















