Sekolah di Serang dan Tangerang lebih mudah beradaptasi dengan pembelajaran digital, punya akses internet yang stabil, dan didukung oleh guru berkualitas.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Sebaliknya, sekolah di Bayah, Cikeusik, Sobang, dan daerah selatan lainnya masih menghadapi masalah sinyal yang lemah, minimnya perangkat digital, serta kekurangan guru.
Ketimpangan kualitas pendidikan ini berarti ketimpangan kesempatan ekonomi untuk generasi muda.
Dalam kerangka Selo, lembaga pendidikan yang tertinggal akan menghasilkan masyarakat yang juga tertinggal ketika menghadapi perubahan struktural lebih besar.
Selo juga menekankan bahwa perubahan sosial yang tidak dikelola dengan baik dapat memperlebar ketimpangan.
Hal ini sedang terjadi di Banten. Mobilitas sosial masyarakat perkotaan meningkat pesat, terutama di Tangerang dan Serang.
Namun, mobilitas masyarakat pedesaan meningkat jauh lebih lambat. Perbedaan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, serta teknologi membuat ketimpangan struktural semakin dalam dan sulit ditutup.
Pertanyaannya adalah: Apakah Banten siap menghadapi dan mengelola perubahan ini?
Jika mengikuti pesan Selo, Banten perlu melakukan langkah besar agar perubahan sosial itu tidak hanya dirasakan sebagian kecil masyarakat, melainkan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Beberapa langkah penting yang perlu ditempuh antara lain:
Meratakan akses pendidikan dan pelatihan vokasi, terutama di daerah selatan, agar masyarakat lokal memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Penulis : Lela
Editor : Redaksi Kilas Banten
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya

















