Warga Kota Serang Banten mengikuti tahlilan di Pondok Pesantren Al-Fathaniyah Tengkele, tradisi doa bersama yang mencerminkan akulturasi Islam dan budaya lokal NusantaraFaktor lain yang memperkuat dugaan ini adalah kuatnya budaya spiritual dan kebatinan masyarakat Nusantara pada masa lalu. Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah diketahui masuk lebih awal ke wilayah Nusantara, bahkan pada era Walisongo. Banyak ulama Nusantara juga menimba ilmu langsung kepada para guru tarekat di Makkah dan Madinah.
Dalam bacaan tahlil, terdapat wasilah atau khadharah yang hampir selalu menyebut nama Sulthonul Auliya’, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Penyebutan ini diyakini memiliki makna spiritual tertentu dan menunjukkan hubungan batin penyusun tahlil dengan Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.
Tokoh yang kerap disebut sebagai penyusun awal urutan tahlilan adalah Syaikh Siti Jenar. Pendapat ini disampaikan oleh KH Agus Sunyoto. Menurutnya, susunan bacaan tahlilan yang dikenal masyarakat saat ini berakar dari ajaran dan dakwah Syaikh Siti Jenar.
Urutan bacaan tersebut antara lain Surat Al-Ikhlas tiga kali, Al-Falaq satu kali, An-Nas satu kali, Al-Fatihah satu kali, awal Surat Al-Baqarah, Ayat Kursi, istighfar, shalawat, tahlil, tasbih, serta doa dan tawassul. Bacaan Al-Fatihah juga dihadiahkan kepada leluhur dan tokoh masyarakat yang telah wafat.
Dari wilayah Lemah Abang, tradisi ini menyebar ke berbagai daerah di Jawa dan kemudian ke luar Jawa. Penyebarannya berlangsung seiring dengan meluasnya dakwah Islam yang berakar pada pendekatan kultural.
Menurut KH Shahibul Faraji Arrabani, Syaikh Siti Jenar memiliki nama asli Sayyid Hasan Ali Al Husain. Ia kemudian dikenal dengan nama Syaikh Abdul Jalil. Saat berdakwah di wilayah Caruban, Cirebon, ia mendapat julukan Syaikh Siti Jenar, Syaikh Lemah Abang, atau Syaikh Lemah Brit.