Sejarah Lengkap Tahlilan: Rekam Jejak Panjang Akulturasi Islam dan Budaya Nusantara yang Terus Bertahan

Kilas Banten
3 Jan 2026 06:41
6 menit membaca

Dalam perkembangannya, tradisi tersebut tidak hanya berhenti pada tujuh hari. Masyarakat juga mengenal peringatan hari ke-40, ke-100, hingga ke-1000 setelah kematian. Semua dilakukan sebagai bentuk solidaritas sosial dan penghormatan kepada orang yang telah wafat.

Ketika Islam masuk ke Nusantara, khususnya melalui dakwah para wali yang dikenal sebagai Walisongo, pendekatan budaya menjadi strategi utama. Para wali tidak menghapus tradisi yang sudah ada. Mereka memilih mengisinya dengan nilai-nilai Islam. Dari sinilah tahlilan lahir sebagai bentuk kolaborasi antara ajaran agama dan budaya lokal.

Bacaan dalam tahlilan diisi dengan kalimat thayyibah, doa, dan ayat Al-Qur’an. Isinya bertujuan mengingat Allah, mendoakan almarhum, serta menguatkan ikatan sosial warga. Pendekatan ini mencerminkan wajah Islam yang ramah dan membumi, sebagaimana konsep Islam rahmatan lil alamin.

Baca Juga  Ulama di Garis Depan Sejarah: Jejak Berani KH Ahmad Aminudin Ibrahim Melahirkan Provinsi Banten

Namun, tidak semua pihak memahami latar sejarah ini. Sebagian kalangan menilai tahlilan sebagai bid’ah karena tidak ditemukan praktik serupa pada masa Rasulullah SAW. Pandangan ini kerap muncul dari sudut pandang normatif yang terlepas dari konteks sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, metode dakwah para wali justru menekankan adaptasi dan kearifan lokal. Islam disampaikan tanpa menimbulkan keguncangan sosial. Tradisi lama tidak dimatikan, melainkan diarahkan agar selaras dengan nilai tauhid.

Susunan bacaan tahlilan di Nusantara juga memiliki akar yang kuat dalam tradisi tasawuf. Redaksinya menunjukkan kedekatan dengan Tarekat Qadiriyah dan Rifa’iyah yang berkembang sejak abad ke-6 Hijriah. Kesamaan ini menjadi indikasi bahwa penyusunnya memiliki keterkaitan spiritual dengan tarekat tersebut.