Warga Kota Serang Banten mengikuti tahlilan di Pondok Pesantren Al-Fathaniyah Tengkele, tradisi doa bersama yang mencerminkan akulturasi Islam dan budaya lokal NusantaraSyaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia. Sejak kecil, ia belajar Al-Qur’an dan tafsir kepada ayahnya. Pada usia 12 tahun, ia telah menghafal Al-Qur’an. Ketika berusia 17 tahun, ia ikut ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka.
Di Malaka, ayahnya, Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti oleh Kesultanan Malaka yang saat itu berada di bawah kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Kesultanan ini berada dalam pengaruh Kekhalifahan Turki Utsmani. Keluarga Syaikh Siti Jenar kemudian menetap di Malaka.
Situasi berubah pada 1424 M ketika terjadi pergantian kekuasaan. Jabatan mufti pun berganti. Setahun kemudian, Sayyid Shalih beserta keluarga pindah ke Cirebon. Di sana, mereka bertemu dengan Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad, seorang mursyid tarekat dan penasihat agama Kesultanan Cirebon.
Sayyid Kahfi mengajarkan ilmu ma’rifatullah kepada Syaikh Siti Jenar yang saat itu berusia 20 tahun. Pada masa itu, terdapat empat mursyid utama Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah yang masing-masing memiliki wilayah dakwah berbeda di dunia Islam.
Syaikh Siti Jenar juga mendalami berbagai kitab tasawuf klasik karya Ibnu Arabi, Al-Ghazali, Imam Al-Qushairi, hingga Al-Hallaj. Dalam bidang fikih, ia berguru kepada Sunan Ampel selama delapan tahun dan mempelajari ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati.
Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Syaikh Siti Jenar dipercaya melanjutkan peran sebagai mursyid tarekat. Murid-muridnya kelak menjadi tokoh besar dalam perkembangan Islam di Nusantara dan Asia Tenggara.
Dari perjalanan panjang inilah, tahlilan tidak sekadar menjadi ritual doa. Ia adalah simbol akulturasi, strategi dakwah, dan bukti bahwa Islam di Nusantara tumbuh dengan pendekatan damai, kontekstual, dan menghargai budaya lokal.