SERUBUK menghidupkan kembali sejarah Sungai Ciujung Lama melalui ekspedisi budaya dan aksi pelestarian lingkungan di Serang Utara. Gerakan ini melibatkan komunitas, mahasiswa, hingga warga bantaran sungai.KILAS BANTEN – Gerakan budaya Seruan Kebudayaan Serang Utara atau SERUBUK menjadi sorotan setelah menggelar ekspedisi Sungai Ciujung Lama dan rangkaian kegiatan budaya di Kabupaten Serang, Banten. Kegiatan yang berlangsung pada 19-20 Mei 2025 itu dinilai menjadi langkah penting dalam menghidupkan kembali jejak peradaban lama di wilayah pesisir utara Banten.
SERUBUK melibatkan berbagai unsur masyarakat. Mulai dari komunitas budaya, aktivis lingkungan, pegiat seni, mahasiswa, pelajar, hingga warga bantaran sungai. Mereka bergerak bersama untuk mengangkat kembali nilai sejarah Sungai Ciujung Lama yang selama ini mulai terlupakan.
Gerakan ini diinisiasi oleh Linggih Studio Banten bersama Gerakan Mahasiswa Serang Utara (GAMSUT) dan Ciujung Institute (CI). Ketiganya mendorong lahirnya kesadaran baru tentang pentingnya menjaga sejarah dan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Ketua Linggih Studio Banten, Rasyid Ridho atau Ido, mengatakan SERUBUK menjadi ruang kolektif bagi masyarakat untuk memahami kembali hubungan antara sungai dan peradaban masyarakat Banten.
“Sejak 19-20 Mei kemarin, kami menjalankan agenda penting yang mudah-mudahan menjadi titik lompatan bersejarah bagi warga Serang Utara-Banten. Fokus kegiatan diarahkan pada inventarisasi, pendokumentasian, dan ekspedisi Sungai Ciujung Lama di Kecamatan Pontang dan Tirtayasa,” ujar Ido, Kamis, 21 Mei 2026.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan itu ialah susur Sungai Ciujung Lama. Peserta menyusuri aliran sungai dari Desa Kaserangan menuju Desa Pontang menggunakan perahu karet. Jarak yang ditempuh mencapai sekitar delapan kilometer.