SERUBUK menghidupkan kembali sejarah Sungai Ciujung Lama melalui ekspedisi budaya dan aksi pelestarian lingkungan di Serang Utara. Gerakan ini melibatkan komunitas, mahasiswa, hingga warga bantaran sungai.
“Aktivasi SERUBUK berorientasi pada mengungkap kembali pengetahuan tentang Sungai Ciujung Lama sebagai endemik peradaban kuno. Di dalamnya terdapat mata rantai kehidupan warga bantaran sungai,” ujar Handoko.
Ia menjelaskan, kawasan Sungai Ciujung Lama menyimpan banyak nilai budaya yang masih bertahan hingga saat ini. Mulai dari pola hidup masyarakat, ekosistem sungai, vegetasi khas, hingga keterampilan tradisional warga bantaran sungai.
Dalam catatan sejarah, Sungai Ciujung Lama memiliki peran penting pada masa Kesultanan Banten. Sungai tersebut disebut telah menjadi jalur transportasi sejak era Sultan Ageng Tirtayasa sekitar tahun 1650-an.
Pada masa itu, Sungai Ciujung Lama menjadi jalur perdagangan penting dan tempat bertemunya berbagai etnis. Aktivitas ekonomi berkembang di sepanjang bantaran sungai dan membentuk kehidupan masyarakat pesisir utara Serang.
Melalui SERUBUK, masyarakat kini berupaya menjaga kembali identitas budaya yang mulai terkikis modernisasi. Gerakan itu juga menjadi pengingat bahwa sungai bukan hanya sumber kehidupan, tetapi bagian penting dari sejarah panjang peradaban Banten.***